Handphone VS Quality Time

Dr. Eusoff Yendo Afgani, M.Sc.
Sumber :
  • Istimewa

Oleh: Dr. Eusoff Yendo Afgani, M.Sc. – Memasuki era digital zaman sekarang, kita menghadapi fenomena handphone (HP) yang telah menjadi bagian inklusif dari kehidupan manusia. Dengan fungsinya memudahkan komunikasi, mempercepat akses informasi, bahkan menjadi sarana dakwah. Namun di balik manfaat itu, ada satu hal yang sering terabaikan tapi terus terjadi: berkurangnya quality time bersama keluarga dan orang-orang terdekat.

img_title Adab Memuliakan Manusia: Mengapa Meremehkan Pekerjaan Orang Lain Sangat Dilarang dalam Agama?

Coba kita perhatikan satu keluarga yang pergi ke restoran cepat saji. Ketika turun dari mobil dan duduk memesan menu, setiap anggota keluarga mengeluarkan HP dan terhanyut dengan layar di HP masing-masing. Padahal mereka pergi dengan tujuan untuk mendapatkan waktu berkualitas bersama. Namun yang terjadi justru karena adanya HP yang dibawa, mereka menjadi anggota komunitas senyap (silent community).

Dengan slogannya yang “yang jauh jadi dekat” (world is on your finger), tetapi dari perspektif sosial dan Islami yang terjadi adalah yang dekat jadi jauh. Dekat dari segi fisik dan jarak, tetapi jauh dari segi sosial dan ikatan hati (emotional bonding). Fenomena ini menjadikan manusia duduk bersama, namun hati berjauhan.

img_title Menghargai Usaha, Bukan Hanya Hasil: Pesan Islam untuk Berhenti Menghakimi Perjuangan Sesama

Padahal figur Rasulullah SAW mencontohkan pentingnya interaksi hangat dalam keluarga, seperti bercanda dengan istri, berlarian dengan istri di pantai, bermain dengan anak, dan berbincang penuh perhatian. Kurangnya quality time ini berdampak besar: hubungan menjadi hambar, komunikasi tidak mendalam, bahkan berpotensi memicu kesalahpahaman.

Dalam kacamata Islam, waktu adalah amanah yang sangat berharga. Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang memanfaatkan waktunya untuk usaha atas iman, amal saleh, dan saling menasihati dalam kebaikan. Ketika HP menyita perhatian kita berjam-jam tanpa disadari, maka di situlah kita perlu bermuhasabah: apakah waktu tersebut mendekatkan kita kepada Allah atau justru menjauhkan?

img_title Tasamuh dalam Islam: Keteladanan Nabi Mengajarkan Cara Menghargai Perbedaan

Karena itu, Islam mengajarkan keseimbangan (wasathiyah). Teknologi tidak dapat ditolak, tetapi penggunaannya harus bijak. Mari kita perhatikan dan terapkan solusi sehat dalam menggunakan HP:

Pertama, tetapkan “zona bebas gadget” di rumah. Ajak anggota keluarga untuk berdiskusi apakah perlu menetapkan tempat dan waktu yang disepakati bersama untuk meluangkan waktu tanpa HP, seperti saat makan bersama, waktu berbincang keluarga, sebelum tidur, atau saat kedatangan tamu. Tujuannya untuk menghadirkan kebersamaan yang utuh tanpa gangguan.

Kedua, buat batasan waktu penggunaan (screen time). Gunakan HP seperlunya, bukan sepanjang waktu. Mendisiplinkan diri sendiri adalah bagian dari jihad melawan hawa nafsu dan belajar mengendalikan ego.

Ketiga, prioritaskan interaksi nyata dan verbal dibandingkan virtual. Jika ada keluarga di depan mata, dahulukan mereka daripada notifikasi yang belum tentu penting.

Keempat, isi penggunaan HP dengan hal bermanfaat: mendengar kajian, membaca Al-Qur’an digital, atau menyebarkan kebaikan. Dengan demikian, HP menjadi alat ibadah, bukan sekadar hiburan.

Kelima, jangan membawa HP ke masjid. Perlu berani untuk tidak membawa HP ke masjid dan informasikan juga kepada anggota keluarga. Tinggalkan di rumah atau di mobil. Jadikan waktu ini sebagai momen indah bersama Allah melalui tafakur, zikir, dan menghisab diri. Jangan diganggu oleh rasa ingin tahu (curiosity) untuk melihat pesan masuk sehingga lupa berzikir dan salat sunah ba’diyah.

Keenam, jadwalkan quality time rutin, seperti makan bersama, olahraga keluarga, atau majelis ilmu kecil di rumah (taklim rumah). Momen ini akan memperkuat ikatan emosional dan spiritual anggota keluarga.

Ketujuh, menjadi teladan. Orang tua harus mampu menunjukkan penggunaan HP yang sehat agar anak-anak meniru kebiasaan yang baik. Karena orang tua adalah guru terdekat dalam kehidupan anak-anak. Jika ingin anak-anak menjadi saleh, maka orang tua harus lebih dahulu menjadi saleh.

Mari kita renungkan, kelak yang akan kita kenang bukanlah berapa lama kita menatap layar, tetapi seberapa dalam hubungan yang kita bangun dengan orang-orang tercinta. Kita perlu berani mematikan (turn off) HP sejenak, menghadirkan hati untuk keluarga, dan menjadikan teknologi sebagai sarana menuju keberkahan, bukan penghalang (obstacle) kebahagiaan.

Steve Jobs, mantan CEO Apple Inc., sebelum meninggal pernah menyimpulkan bahwa kekayaan bukanlah pada nilai nominal, tetapi pada waktu bersama orang terdekat dan tercinta (quality time).

Wallahu a’lam.