Sains dan Al-Qur’an Berjumpa: Mengapa Hati yang Bersyukur Merasa Lebih Cukup?
- Pexels
Bogor, VIVA Bogor – Di tengah kehidupan yang semakin ramai, manusia justru sering merasa kekurangan. Interaksi dimedia sosial membuat seseorang mudah membandingkan rumah, pekerjaan, penampilan, perjalanan, bahkan pencapaian dirinya dengan kehidupan orang lain. Akibatnya, sesuatu yang sebenarnya sudah cukup terasa kurang hanya karena melihat orang lain memiliki lebih banyak.
Di sinilah syukur memiliki peran penting. Dalam ajaran Islam, syukur bukan sekadar ucapan alhamdulillah, melainkan cara seorang Muslim menyadari, mengakui, dan menggunakan nikmat Allah dengan benar. Menariknya, psikologi modern juga banyak membahas manfaat kebiasaan bersyukur terhadap kesejahteraan psikologis. Keduanya dapat ditempatkan pada ranah yang berbeda tetapi saling memberi perspektif.
Allah SWT berfirman: "Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu." (QS. Ibrahim: 7)
Ayat ini mengandung janji Allah kepada orang yang bersyukur. Tambahan nikmat tidak selalu berarti bertambahnya harta atau benda. Ia dapat berupa keberkahan, ketenangan, kesehatan, hubungan yang baik, ilmu, atau kemampuan melihat kebaikan dalam kehidupan.
Dalam perspektif psikologi, rasa syukur dapat membantu seseorang mengalihkan perhatian dari apa yang tidak dimiliki menuju apa yang masih dimiliki. Seseorang yang terbiasa menyadari hal-hal baik dalam kehidupannya memiliki kesempatan untuk mengurangi kebiasaan membandingkan diri secara terus-menerus.
Misalnya, seseorang mungkin merasa hidupnya gagal karena belum memiliki pekerjaan seperti temannya. Namun, ketika ia berhenti sejenak dan mengingat bahwa dirinya masih memiliki keluarga yang mendukung, tubuh yang sehat, kesempatan belajar, dan kemampuan untuk berusaha, sudut pandangnya dapat berubah.
Masalahnya mungkin belum hilang. Tetapi cara memandang masalah menjadi berbeda.
Inilah salah satu makna rasa cukup. Cukup bukan berarti berhenti berusaha. Seorang Muslim tetap diperintahkan untuk bekerja, belajar, dan mencari kehidupan yang lebih baik. Rasa cukup berarti tidak membiarkan keinginan menguasai seluruh hati hingga seseorang kehilangan kemampuan menikmati nikmat yang sudah ada.
Rasulullah SAW bersabda: "Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa cukup dengan apa yang telah diberikan kepadanya." (HR. Muslim)
Hadis ini menarik karena menghubungkan kecukupan rezeki dengan kemampuan hati untuk merasa cukup. Dua hal tersebut tidak selalu sama. Seseorang bisa memiliki banyak harta tetapi terus merasa kekurangan. Sebaliknya, seseorang dengan penghasilan sederhana dapat menjalani hidup dengan tenang karena mampu menerima dan mengelola apa yang dimilikinya.