Bukan Sekadar Ucapan: 3 Pilar Syukur yang Membuka Jalan Keberkahan
- Pexels
Bogor, VIVA Bogor – Ada kalanya kita mengucapkan alhamdulillah berkali-kali dalam sehari, tetapi hati masih sibuk menghitung apa yang belum dimiliki. Kita bersyukur ketika mendapat kabar baik, menerima rezeki, atau berhasil mencapai sesuatu. Namun, ketika keadaan berubah tidak sesuai harapan, rasa syukur seolah ikut menghilang.
Padahal, dalam Islam, syukur bukan sekadar ucapan di lisan. Syukur adalah sikap seorang hamba dalam mengenali nikmat Allah, mengakuinya, lalu menggunakan nikmat tersebut untuk sesuatu yang diridai-Nya.
Allah SWT berfirman: "Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu." (QS. Ibrahim: 7)
Ayat ini menjadi salah satu dasar penting tentang syukur. Namun, memahami syukur secara utuh membutuhkan kesadaran bahwa ada beberapa unsur yang saling berkaitan. Para ulama menjelaskan bahwa syukur dapat diwujudkan melalui hati, lisan, dan anggota tubuh atau perbuatan.
Pertama, syukur dengan hati.
Ini merupakan kesadaran bahwa segala nikmat pada hakikatnya berasal dari Allah SWT. Ketika memperoleh pekerjaan, misalnya, kita boleh menghargai usaha dan bantuan orang lain, tetapi tetap menyadari bahwa kemampuan, kesempatan, dan hasil akhirnya berada dalam ketetapan Allah.
Syukur dengan hati juga berarti tidak menjadikan nikmat sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Kekayaan bukan bukti bahwa seseorang lebih mulia. Kecerdasan bukan alasan untuk merendahkan mereka yang memiliki keterbatasan. Semua yang kita miliki pada dasarnya adalah titipan.
Allah mengingatkan: "Dan apa saja nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah (datangnya)." (QS. An-Nahl: 53)
Kedua, syukur dengan lisan.
Ucapan alhamdulillah bukan sekadar kebiasaan verbal. Di dalamnya terdapat pengakuan bahwa segala pujian pada akhirnya kembali kepada Allah. Karena itu, seorang Muslim dianjurkan membiasakan diri menyebut nikmat Allah dan memuji-Nya.
Rasulullah SAW bersabda: "Ucapan yang paling dicintai Allah ada empat: Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, dan Allahu Akbar." (HR. Muslim)
Lisan yang bersyukur juga seharusnya dijaga dari keluhan yang berlebihan, perkataan yang menyakiti, dan ucapan yang meremehkan nikmat Allah. Bukan berarti seseorang tidak boleh mengungkapkan kesedihan atau kesulitan. Namun, keluhan seharusnya tidak membuat kita melupakan begitu banyak karunia yang masih diberikan.