Meminta Maaf dan Memaafkan, Salah Satu Hikmah Ramadan yang Lalu
- Istimewa
Oleh Dr. Eusoff Yendo Afgani M.Sc – Meminta maaf dan memaafkan, salah satu hikmah Ramadan yang lalu. Hari Raya Idulfitri baru berlalu. Kita sebagai umat Islam telah merayakannya dan perlu menjadikannya sebagai momentum agung untuk menyucikan hati. Di antara akhlak mulia yang perlu diterapkan adalah memaafkan. Islam menilai pemaafan sebagai simbol menuju kemuliaan, bukan sebagai kelemahan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu?” (QS. An-Nur: 22).
Ayat ini menegaskan bahwa memaafkan orang lain adalah bentuk harapan kita untuk mendapatkan ampunan Allah.
Dalam hadis, Nabi Muhammad bersabda: “Tidaklah berkurang harta karena sedekah, dan tidaklah Allah menambah seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim).
Kisah masyhur pernah mencatat ketinggian pribadi Umar bin Khattab. Sikap ini menunjukkan keluasan jiwa seorang pemimpin besar yang lebih memilih keselamatan akhirat daripada memelihara amarah.
Suatu malam, Amirul Mukminin Umar bin Khattab menjadikan kebiasaan malamnya berkeliling untuk memahami keadaan rakyatnya. Ketika sedang blusukan itu, beliau mendengar suara dari sebuah rumah, suara nyanyian dan kegaduhan yang mencurigakan. Umar pun mendekat dan mengintip dari balik dinding, lalu yakin bahwa di dalam ada seseorang yang sedang minum khamr.
Didorong oleh semangat ketegasan dalam amar bil ma’ruf wa nahi anil munkar, Umar tidak masuk melalui pintu, tetapi melompati pagar dan langsung masuk ke dalam rumah tersebut. Ia mendapati seorang lelaki sedang dalam keadaan mabuk. Dengan tegas Umar berkata, “Wahai musuh Allah, apakah engkau mengira Allah tidak melihat perbuatanmu?”
Namun lelaki itu, meskipun dalam keadaan bersalah, menjawab dengan tenang, “Wahai Amirul Mukminin, jika aku telah berbuat satu kesalahan meminum arak, maka engkau telah melakukan tiga kesalahan.”
Umar terkejut dan bertanya, “Apa maksudmu?”
Orang itu menjawab:
- “Allah berfirman: ‘Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain’ (QS. Al-Hujurat: 12), tetapi engkau justru mengintipku.”
- “Allah berfirman: ‘Masuklah ke rumah-rumah melalui pintu-pintunya’ (QS. Al-Baqarah: 189), tetapi engkau melompati pagar.”
- “Allah berfirman: ‘Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya’ (QS. An-Nur: 27), tetapi engkau masuk tanpa izin dan tanpa salam.”