Lebaran: Momentum Rekonstruksi Hati

Dr. Eusoff Yendo Afgani. M.Sc
Sumber :
  • Istimewa

Oleh - Dr. Yendo Afgani@Eusoff Adalah social researcher, ustaz, mantan dosen di Malaysia dan New York, serta penyelia halal bersertifikasi, kini tinggal di Bogor.

img_title Ribuan Warga Sentul City Meriahkan Festival Kemerdekaan, Jadi Ajang Silaturahmi Antarwarga

Lebaran: Momentum Rekonstruksi Hati

Beberapa hari lagi, insya Allah kita akan menjumpai Idul Fitri bukan sekadar sebagai momentum perayaan, tetapi juga peluang besar bagi kita untuk merekonstruksi hubungan yang retak di antara kita. Dari hubungan antara adik-beradik, sesama tetangga, hingga sesama kawan sekerja. Selama sebulan kita menjalani “universitas rohani” madrasah Ramadan dengan cara menahan lapar dan haus serta mengendalikan emosi, maka sebagai seorang Muslim kita diharapkan mencapai kebersihan spiritual dan kematangan sosial.

img_title Oi Batang Rayakan Harlah ke-27 dan HUT RI ke-81 dengan Silaturahmi dan Doa Bersama

Kebersihan hati dan kematangan jiwa itu perlu ditunjukkan dengan cara berdamai dengan hati untuk menerima kezaliman orang yang melukai kita. Memaafkan. Allah ﷻ menegaskan dalam Al-Qur’an: “Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya di sisi Allah” (QS. Asy-Syura: 40). Ayat ini menunjukkan bahwa memaafkan bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan ruhani yang tinggi nilainya di sisi Allah Swt.

Tidak diragukan, seiring berjalannya waktu kita pasti mengalami gesekan-gesekan karena ucapan dan perlakuan yang menyakitkan dari orang-orang di sekitar kita. Hal ini kadang membuat kita mengambil pendekatan diam untuk meminimalkan kerusakan (minimize damage). Namun demikian, Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Tidak halal bagi seorang Muslim untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari…” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengingatkan bahwa menjaga hubungan adalah kewajiban, bukan pilihan. Lebaran menjadi ruang terbuka untuk menghentikan diam yang berkepanjangan, menggantinya dengan salam, pelukan, dan doa.

img_title Perkuat Sinergitas TNI–Polri, Kapolsek Leuwiliang Sambangi Koramil Leuwiliang untuk Jaga Kondusivitas Wilayah

Dalam tradisi ulama terdahulu, semangat rekonsiliasi ini sangat nyata. Diriwayatkan bahwa Imam Hasan al-Basri pernah berkata bahwa orang yang paling mulia adalah mereka yang paling cepat memaafkan kesalahan orang lain. Lebaran, dalam konteks ini, bukan sekadar ucapan “mohon maaf lahir dan batin”, tetapi proses menundukkan ego, meluruhkan gengsi, dan menghidupkan kembali kasih sayang. Ia adalah terapi sosial yang mengobati luka hubungan sekaligus terapi psikologis yang membebaskan jiwa dari beban emosi.

Halaman Selanjutnya
img_title