Kades Kutamekar Alihkan Aliran Sungai Cibeet, Jawab Kekhawatiran Warga Jelang Musim Hujan
- Dok: Dedi Ruswandi
Kabupaten Bogor, VIVA Bogor – Kekhawatiran warga Kampung Palahlar, Desa Kutamekar, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor, terhadap ancaman abrasi dan luapan Sungai Cibeet mulai mendapat perhatian pemerintah desa.
Uteng, Kepala Desa Kutamekar
- Dok: Dedi Ruswandi
Kepala Desa Kutamekar, Uteng, mengambil inisiatif melakukan penataan aliran Sungai Cibeet dengan mengalihkan sebagian aliran ke lokasi yang dinilai lebih jauh dari permukiman warga.
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya sementara untuk mengurangi risiko luapan air dan abrasi yang selama ini mengancam lahan serta rumah warga di sekitar bantaran sungai.
Kekhawatiran warga kembali meningkat memasuki musim penghujan. Ketika debit Sungai Cibeet naik, arus air berpotensi meluap sekaligus mengikis tanah di sepanjang bantaran.
Abrasi yang berlangsung secara perlahan telah menyebabkan sejumlah lahan di sekitar sungai tergerus. Kondisi itu membuat warga yang tinggal berdekatan dengan aliran Sungai Cibeet merasa waswas, terutama saat hujan deras turun dalam waktu cukup lama.
Uteng mengatakan, pengalihan aliran tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian pemerintah desa terhadap keselamatan dan kenyamanan masyarakat, khususnya warga Kampung Palahlar RT 05/RW 06.
“Sedikit demi sedikit kami pindahkan aliran Sungai Cibeet agar lebih jauh dari permukiman warga. Ini kami lakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat,” ujar Uteng, Rabu 2 September 2026.
Menurutnya, proses penataan dilakukan menggunakan anggaran pribadi dan dibantu secara swadaya oleh masyarakat.
Uteng mengungkapkan, persoalan abrasi Sungai Cibeet sebenarnya telah dilaporkan kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) sejak 2023. Laporan tersebut berkaitan dengan abrasi yang terus menggerus bantaran sungai dan menimbulkan kekhawatiran terhadap lahan maupun tempat tinggal warga.
“Sejak tahun 2023, abrasi di desa kami sudah kami laporkan ke BBWS. Warga khawatir lahan dan tempat tinggal mereka semakin tergerus arus Sungai Cibeet. Namun sampai saat ini belum ada tindak lanjut,” katanya.
Karena belum adanya penanganan secara langsung, pemerintah desa bersama masyarakat memilih mengambil langkah mandiri untuk mengurangi dampak abrasi.
“Oleh karena itu, saya bersama masyarakat Desa Kutamekar berinisiatif untuk melakukan penataan dan mengalihkan aliran Sungai Cibeet agar lebih jauh dari permukiman,” tutur Uteng.