Menjaga Iffah di Era Pergaulan Bebas: Benteng Iman Generasi Muda agar Tak Mudah Terjerumus
- Ilustrasi
Bogor, VIVA Bogor – Menjadi anak muda di era sekarang berarti hidup di tengah banyak pilihan. Pertemanan semakin luas, komunikasi semakin mudah, dan media sosial membuat interaksi dapat berlangsung kapan saja. Di balik kemudahan itu, ada tantangan untuk menjaga batas, mengendalikan keinginan, dan tetap berpegang pada nilai yang diyakini.
Dalam Islam, salah satu prinsip penting untuk menghadapi tantangan tersebut adalah iffah, yaitu menjaga kehormatan dan kesucian diri dengan mengendalikan diri dari hal-hal yang dilarang. Iffah bukan berarti menutup diri dari pergaulan atau memandang semua hubungan sebagai sesuatu yang buruk. Sebaliknya, prinsip ini mengajarkan generasi muda agar mampu berinteraksi secara sehat tanpa kehilangan kendali atas sikap dan keputusan.
Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nur ayat 33 agar orang-orang yang belum mampu menikah menjaga kesucian dirinya sampai Allah memberikan kemampuan kepada mereka. Ayat ini menegaskan pentingnya menjaga diri ketika seseorang belum memiliki kemampuan untuk menikah. (Al-Qur’an, An-Nur: 33)
Pesan tersebut relevan bagi generasi muda yang sedang membangun masa depan. Keinginan dan ketertarikan merupakan bagian dari fitrah manusia, tetapi keduanya perlu diarahkan dengan tanggung jawab. Menjaga iffah berarti tidak membiarkan dorongan sesaat mengalahkan pertimbangan iman, akal sehat, dan masa depan.
Kesucian diri juga tidak hanya berkaitan dengan hubungan seksual. Ia mencakup upaya menjaga pandangan, perkataan, perilaku, serta kehormatan orang lain. Dengan demikian, iffah merupakan latihan membangun karakter, bukan sekadar menghindari satu jenis perbuatan.
Al-Qur’an Mengajarkan Menjaga Pandangan Dalam Surah An-Nur ayat 30–31, Allah memerintahkan laki-laki dan perempuan beriman untuk menjaga pandangan serta memelihara kehormatan mereka. (Al-Qur’an, An-Nur: 30–31)
Perintah ini mengingatkan bahwa menjaga diri dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Di dunia digital, misalnya, seseorang perlu bijak memilih tontonan, tidak menikmati konten yang sengaja membangkitkan syahwat, dan berani menghentikan percakapan yang mulai melampaui batas.
Dalam pergaulan langsung, menjaga iffah dapat diwujudkan dengan menghormati batas pribadi, tidak memaksa seseorang membalas perasaan, serta tidak menjadikan kedekatan sebagai alasan untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan prinsip agama.