Nikmat Banyak tapi Hati Tetap Gelap? Waspadai Bahaya Kufur Nikmat dalam Islam

Makna Menjadi Hamba yang Bersyukur
Sumber :
  • Pexels

Bogor, VIVA Bogor – Ada masa ketika hidup terlihat baik-baik saja, tetapi hati justru terasa kosong. Rumah ada, pekerjaan berjalan, keluarga masih bersama, kebutuhan sehari-hari terpenuhi. Namun, entah mengapa semuanya terasa hambar. Yang terlihat justru kekurangan, bukan karunia.

img_title Pesan Cinta dari Langit: Mengapa Sayang kepada Makhluk Bumi Adalah Kunci Meraih Kasih Sayang Allah?

Mengapa bisa demikian?

Dalam perspektif Islam, salah satu hal yang perlu diwaspadai adalah kufur nikmat, yaitu sikap tidak mensyukuri nikmat Allah, mengingkari karunia-Nya, atau menggunakan nikmat tidak sebagaimana mestinya. Kufur nikmat bukan sekadar lupa mengucapkan alhamdulillah. Persoalannya lebih dalam: bagaimana hati memandang sumber dan penggunaan nikmat tersebut.

img_title Jembatan Bailey Punca Kini Diaspal, Pemotor Tak Lagi Khawatir Licin Saat Hujan

Allah SWT memberikan peringatan yang sangat jelas: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.'" (QS. Ibrahim: 7)

Ayat ini memperlihatkan adanya dua sikap yang berbeda dalam menerima nikmat. Syukur membuka jalan kepada tambahan nikmat, sedangkan mengingkari nikmat merupakan perkara yang mendapat peringatan keras dari Allah.

img_title Menghargai Waktu Adalah Bentuk Syukur, Jangan Sampai Kesempatan Berubah Menjadi Penyesalan

Kufur nikmat sering kali muncul secara perlahan. Seseorang mungkin awalnya hanya terbiasa mengeluh. Apa pun yang diterima terasa kurang. Ketika mendapat rezeki, yang dipikirkan adalah keinginan berikutnya. Ketika memiliki keluarga, yang diperhatikan justru kekurangannya. Ketika sehat, kesehatan dianggap biasa sampai sakit datang.

Akhirnya, nikmat yang sebenarnya banyak menjadi tidak terasa karena perhatian hanya tertuju pada sesuatu yang belum dimiliki.

Padahal, Allah SWT mengingatkan: "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya." (QS. An-Nahl: 18)

Ayat tersebut mengajak manusia melihat betapa luasnya nikmat Allah. Tidak semuanya berbentuk materi. Kemampuan melihat, mendengar, berpikir, bernapas, berjalan, memiliki kesempatan bertobat, berkumpul dengan keluarga, dan menjalankan ibadah merupakan nikmat yang sering baru terasa nilainya ketika hilang.

Namun, syukur bukan berarti seseorang dilarang menginginkan kehidupan yang lebih baik. Islam tidak mengajarkan manusia untuk pasrah terhadap keadaan tanpa usaha. Seorang Muslim boleh mencari rezeki lebih luas, mengejar pendidikan, membangun usaha, atau memperbaiki kondisi keluarganya.

Yang perlu dijaga adalah hati agar keinginan tersebut tidak berubah menjadi ketidakpuasan tanpa batas. Rasulullah SAW memberikan gambaran tentang sifat manusia terhadap harta.

Halaman Selanjutnya
img_title