Bahaya Menormalisasi Nikmat Iman dan Islam
- Yuni Retnowati
Bogor, VIVA Bogor – Salah satu penyakit hati yang sering tidak disadari oleh kaum Muslimin adalah menormalisasi nikmat Islam, yaitu menganggap iman, Islam, dan ketaatan sebagai sesuatu yang biasa. Padahal, nikmat Islam adalah nikmat terbesar yang Allah berikan kepada seorang hamba. “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Ma’idah: 3). Ayat ini menegaskan bahwa Islam bukan nikmat biasa, melainkan nikmat yang paling agung.
Ketika nikmat ini tidak lagi diagungkan, rasa syukur akan memudar. Allah memperingatkan, “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu kufur, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
(QS. Ibrahim: 7).
Menormalisasi nikmat Islam termasuk bentuk kufur nikmat, yang terlihat dari ibadah yang dikerjakan sekadar rutinitas tanpa kehadiran hati. Allah ﷻ berfirman, “Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya.”
(QS. Al-Ma’un: 4–5). Rasulullah ﷺ bersabda, “Betapa banyak orang yang shalat, namun tidak mendapatkan dari shalatnya kecuali rasa lelah dan capek.”
(HR. Ahmad)
Dampak lainnya adalah meremehkan dosa. Rasulullah ﷺ menjelaskan, “Seorang mukmin melihat dosanya seperti gunung yang ia khawatirkan akan menimpanya, sedangkan orang fajir melihat dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya.”
(HR. Bukhari). Hati yang tidak mengagungkan iman akan mudah tergelincir, bahkan nikmat iman bisa dicabut. Allah ﷻ berfirman, “Allah tidak akan mengubah nikmat yang telah diberikan kepada suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Al-Anfal: 53)
Selain itu, menormalisasi Islam akan menghilangkan izzah dan identitas Muslim. Padahal, “Kemuliaan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman.”
(QS. Al-Munafiqun: 8).
Nikmat terbesar bukan harta atau kedudukan, melainkan iman dan Islam. Mengagungkannya adalah sebab penjagaan Allah, sementara meremehkannya adalah jalan menuju kehilangan keberkahan. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang selalu mensyukuri dan menjaga nikmat Islam hingga akhir hayat.