Belajar dari Umar: Teladan Menghadapi Musibah dengan Jiwa Besar

Belajar dari Umar: Teladan Menghadapi Musibah dengan Jiwa Besar
Sumber :
  • Yuni Retnowati

Bogor, VIVA Bogor – Sejarah Islam mencatat sebuah masa kelam pada era kekhalifahan Umar bin Khaththab. Tahun itu dikenal sebagai ‘Aamur Ramadah—tahun kelabu—ketika kekeringan panjang melanda Jazirah Arab, melumpuhkan ekonomi, dan menguji keteguhan iman umat.

img_title AMBS Ajak Warga Puncak Bogor Jaga Jakarta, Tolak Provokasi Aksi 27 Agustus

Namun, dari krisis itulah kepemimpinan Umar bersinar. Ia tidak sekadar menjadi pemimpin administratif, tetapi hadir sebagai teladan moral dan spiritual bagi rakyatnya. Dalam situasi sulit, Umar mengajarkan bahwa musibah harus dihadapi dengan kesederhanaan, solidaritas, dan persatuan.

Umar memulai penghematan dari dirinya sendiri. Ia menolak makanan mewah, memilih roti kering dan minyak zaitun, hingga wajahnya berubah pucat. Umar ingin memastikan bahwa ia merasakan apa yang dirasakan rakyatnya. Sikap ini sejalan dengan firman Allah SWT,  “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

img_title Artis Timur dan Sentul Highlands Galang Dana untuk Korban Gempa NTT

(QS. Al-A‘rāf: 31)

Kesederhanaan bukan sekadar gaya hidup, melainkan bentuk empati dan tanggung jawab sosial seorang pemimpin.

img_title Menabur Senyum dan Salam: Amalan Sosial Ringan yang Membuka Pintu Kasih Sayang Antar sesama

Umar memahami bahwa bencana tidak boleh ditanggung sendiri. Ia mengirim surat ke berbagai wilayah kekuasaan Islam seperti Syam, Mesir, dan Irak untuk meminta bantuan logistik. Baginya, musibah bukan soal gengsi politik, tetapi soal kemanusiaan dan persaudaraan iman. Al-Qur’an menegaskan, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.”(QS. Al-Māidah: 2)

Prinsip gotong royong inilah yang menjadi fondasi kuat peradaban Islam sejak awal.

Di tengah krisis, Umar tidak sibuk mencari kambing hitam. Ia justru menguatkan rakyat, merangkul berbagai pihak, serta membangun komunikasi publik yang menenangkan. Umar paham, perpecahan hanya akan memperparah penderitaan. Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai dan menyayangi adalah seperti satu tubuh.”

(HR. Muslim)

Apa yang ditunjukkan Umar bin Khaththab bukan sekadar catatan sejarah, melainkan pedoman abadi. Di saat musibah menimpa negeri, umat diajak menjaga lisan, memperkuat solidaritas, menyederhanakan gaya hidup, dan menjadi bagian dari solusi. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban.”

(HR. Bukhari dan Muslim)