Hal Penting Soal Faktor Risiko Demensia

Ilustrasi demensia. /freepik
Sumber :
  • Freepik

JAKARTA, VIVABOGOR – Tim penelitian ungkap pada studi jangka panjang dimana kemampuan kognitif seseorang dilacak sepanjang hidupnya. Salah satu faktor terpenting yang menjelaskan kemampuan kognitif seseorang pada usia 70 tahun adalah kemampuan kognitif mereka saat berusia 11 tahun.

img_title Sentul City Gelar Sunday Wellness Carnival, Hadirkan Fun Run hingga Test Drive BYD

“Artinya, orang dewasa yang lebih tua dengan kemampuan kognitif yang lebih rendah sering kali memiliki kemampuan yang lebih rendah ini sejak masa kanak-kanak, dan perbedaan tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh penurunan yang lebih cepat di usia lanjut,” kata tim peneliti.

Dilihat secara keseluruhan, peneliti beri saran pencegahan demensia dianggap sebagai tujuan seumur hidup. Bukan hanya fokus untuk usia lanjut.

img_title Ketika Sekedar Halal belum Cukup: Perspektif Pilihan Muslim untuk Makanan yang Halal dan Tayyib

Studi yang dilakukan para peneliti di Swedia dan Republik Ceko pada tahun 2023 menemukan sejumlah faktor kelahiran terkait dengan sedikit peningkatan risiko demensia di kemudian hari.

Dilansir dari laman Science Alert, beberapa faktor risiko bisa dimulai dari sebelum lahir, seperti berbagi rahim dengan kembar, jarak kelahiran yang lebih pendek, dan hamil di atas usia 35 tahun dapat memengaruhi pengambilan keputusan orangtua. Lalu, faktor risiko lainnya muncul seiring melewati masa kanak-kanak hingga dewasa muda.

img_title Mood Swing + Hot Flashes? Welcome to Perimenopause Era

Studi lain terbitan akhir tahun 2024 meneliti faktor risiko pada orang dewasa muda berusia 18 hingga 39 tahun. Tim pimpinan Global Brain Health Institute (GBHI) di Irlandia mengumpulkan sekelompok ahli dari 15 negara di seluruh dunia untuk membantu mengembangkan rencana seumur hidup guna meningkatkan kesehatan otak.

“Masa dewasa muda merupakan periode penting untuk intervensi yang dapat secara signifikan mengurangi risiko demensia di kemudian hari, Untuk memastikan hasil kesehatan otak yang lebih baik, kaum muda harus dilibatkan sebagai mitra kunci dalam upaya penelitian, pendidikan, dan pembuatan kebijakan," kata Francesca Farina, ahli saraf di GBHI.

Dari faktor risiko yang diidentifikasi para peneliti, beberapa di antaranya terkait gaya hidup, termasuk konsumsi alkohol berlebihan, merokok, kurangnya aktivitas fisik, dan isolasi sosial.

Faktor lainnya bersifat lingkungan, seperti paparan polusi, cedera otak traumatis, gangguan pendengaran atau penglihatan, atau tingkat pendidikan yang rendah. Faktor lainnya, seperti obesitas, diabetes, hipertensi, kolesterol LDL, dan depresi, merupakan masalah kesehatan yang mungkin timbul dari pilihan gaya hidup.

Halaman Selanjutnya
img_title