Hal Penting Soal Sel Telur dan Sel Sperma
- Ilustrasi/Pexels
JAKARTA, VIVABOGOR – Tembakau memberi pengaruh pada aliran darah. Bakan merusak sel telur dan sperma. Pria perokok punya jumlah sperma 10–17 persen lebih rendah dan fragmentasi DNA yang lebih tinggi.
Kopi pun bisa ganggu keseimbangan hormon. Konsumsi lebih dari 300 mg kafein/hari (2–3 cangkir) bisa menunda pembuahan.
Bagi perempuan, risikonya bahkan lebih besar. Jadi, sangat penting kurangi kebiasaan seperti merokok. Perempuan perokok punya risiko infertilitas dua kali lebih besar.
Kurangi konsumsi beberapa zat itu dimana bisa hasilkan perbaikan nyata. Siklus menstruasi yang lebih sehat dan parameter sperma yang lebih baik bisa terlihat dalam waktu 8-12 minggu.
Sementara, gaya hidup dan kebiasaan sehari-hari yang tidak sehat bisa memunculkan efek kumulatif dimana memberi pengaruh pada tingkat energi hingga kesuburan. Dilansir dari laman Hindustan Times, kebiasaan gaya hidup tidak sehat bisa secara diam-diam ganggu keseimbangan.
Juga memberi pengaruh pada kesehatan reproduksi jauh sebelum gejala yang terlihat muncul. "Menurut WHO, 1 dari 6 pasangan di seluruh dunia mengalami infertilitas. Kesuburan bergantung pada keseimbangan hormon yang stabil, organ yang sehat, dan rutinitas yang teratur yang mendukung ritme alami tubuh," kata Dr. Snehal, spesialis kesuburan dan spesialis kesehatan wanita.
Di antara pola hidup yang tidak sehat adalah tidur yang tidak teratur bisa memberi pengaruh pada hormon yang bertanggung jawab atas kesehatan reproduksi pria dan wanita. Ujar Snehal, kurang tidur, kualitas sperma pun menurun.
Saat kurang tidur atau tidurnya tidak teratur, otak menghasilkan kadar hormon yang lebih rendah yang mendukung ovulasi dan perkembangan sperma. "Tidur kurang dari 6 jam dikaitkan dengan peningkatan hingga 30 persen pada ketidakteraturan menstruasi. Pria dengan kualitas tidur yang buruk memiliki konsentrasi sperma 25–35% lebih rendah," katanya.
Ia pun menekankan dan mendesak mereka yang bekerja shift malam atau banyak menggunakan layar di malam hari untuk berhati-hati. Pasalnya, kebiasaan ini bisa memberikan tekanan tambahan pada sistem reproduksi.
Snehal juga mengatakan, kebiasaan makan pun punya peran penting untuk menjaga kesehatan reproduksi. Diet rendah makanan segar dan tinggi makanan olahan bisa berdampak negatif pada kualitas sel telur dan sperma, secara bertahap mengganggu keseimbangan hormon yang dibutuhkan untuk kesuburan.