Istilah Sehat Menueut Dokter Osteopatik
- Pexels
Jakarta, Viva Bogor – Ada usul solusi radikal demi kembalikan kejujuran bahasa. Yakni agar dalam konteks produk makanan, istilah "sehat" seharusnya merujuk pada suatu bahan atau makanan yang diciptakan Tuhan (alami).
"Istilah 'sehat' hanya boleh dipakai untuk makanan yang benar-benar alami dan belum diolah manusia, titik," ujar Dokter Osteopatik di Idaho, Amerika Serikat, Warren Willey. Pihak Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) sendiri tetapkan definisi dan standar untuk apa yang boleh disebut "sehat" pada label kemasan makanan di Amerika Serikat.
Kata Willey, penetapan itu, dimana produsen makanan memiliki waktu hingga 25 Februari 2028 untuk mematuhinya, belum mengatasi masalah mendasar. Mengingat, kata dia, makanan yang dikemas, bahkan dengan label "sehat," tetap jadi produk buatan manusia.
"Banyak bahan kimia, pengawet, dan entah apa lagi yang terkandung di dalamnya dan dapat memengaruhi kesehatan Anda," kata Willey. Dengan definisi tunggal itu, kata itu tidak perlu lagi dipertanyakan atau dimanipulasi secara retorika.
Katanya, definisi label "sehat" pada kemasan makanan dan minuman sudah tidak jelas lagi. "Saya rasa maknanya telah terdistorsi, hampir dalam arti perubahan semantik. Perubahan semantik juga disebut pergeseran semantik, progresi semantik, perkembangan semantik, atau pergeseran semantik," tulis Willey dilansir dari IdahoStateJournal.
Pergeseran semantik itu diperkuat oleh manipulasi retorika dalam komunikasi, termasuk iklan, yang berpotensi menyesatkan konsumen. "Sebuah tinjauan baru-baru ini menemukan bahwa 97 persen produk makanan yang dipasarkan dengan label 'sehat' ternyata mengandung gula atau pemanis buatan," tulis Willey.
Dia menambahkan, temuan itu menjelaskan mengapa upaya "makan sehat" sering kali gagal membantu penurunan berat badan.
Sumber: Antara