Warga Bojong Kulur Dilatih Kelola Bank Sampah Digital dan Dropbox IoT

Universitas Pakuan (Unpak) menggelar pelatihan bagi masyarakatbdi Desa Bojong Kulur, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor tentang sampah digital
Sumber :
  • Unpak

Bogor, VivanewsBogor - Tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Pakuan menyelenggarakan pelatihan pengelolaan sampah digital selama tiga hari, 18–20 Agustus 2026, di Desa Bojong Kulur, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM-PkM) yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Program BIMA 2026, dengan mitra sasaran Kelompok Kerja Rumah Edukasi Pengelolaan Sampah dan Sadar Iklim (Pokja Resik).

Andi Chairunnas, ketua tim pengabdian sekaligus pengembang sistem BASADE-IoT menyatakan, teknologi ini bukan sekadar alat administrasi, BASADE dan dropbox IoT ini adalah enabler — pemungkin — transformasi Pokja Resik secara menyeluruh dari hulu ke hilir.

“Ketika warga bisa menyetor sampah kapan saja tanpa harus menunggu jadwal bulanan,” ungkapnya.

Andi menambahkan, efektivitas pelatihan diukur melalui pra-tes dan pasca-tes. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan: rata-rata pengetahuan peserta naik dari 85,9 persen pada pra-tes menjadi 96,2 persen pada pasca-tes — peningkatan sebesar 10,3 poin persentase dalam satu sesi intensif.

“Pengelola bisa memantau data secara real-time dari smartphone-nya, itulah momen di mana budaya menabung sampah benar-benar bisa tumbuh di Desa Bojong Kulur," katanya.

Pelatihan ini diikuti oleh 26 peserta yang terdiri atas pengelola Bank Sampah Unit (BSU), anggota PKK, kader Kelompok Wanita Tani (KWT), dan kelompok pemuda Desa Bojong Kulur.

Selama tiga hari, peserta mendapatkan pelatihan pengelolaan bank sampah digital melalui platform BASADE (basade.unpak.ac.id), pengoperasian mesin dropbox sampah plastik berbasis Internet of Things (IoT), kampanye pemilahan dan menabung sampah, serta penguatan kelembagaan Bank Sampah Induk (BSI).

Sementara Sekretaris Desa Bojong Kulur, Takih menyambut positif kegiatan ini. Kegiatan ini sebagai jawaban atas persoalan yang sudah lama dirasakan warga.

"Selama ini pengelola bank sampah harus mencatat semua transaksi dengan tangan, dan warga harus menunggu waktu setoran yang sudah ditentukan,” kata Takih.

Diketahui Desa Bojong Kulur sendiri diapit oleh Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas, menjadikan 60 persen wilayahnya tergolong rawan banjir. Salah satu penyebab utama banjir adalah penyumbatan drainase akibat timbulan sampah yang tidak terkelola.