Sejarah Berdirinya Masjid Atta'awun Puncak Bogor dibalik Polemiknya

Penataan parkir dan lingkungan Masjid Atta’awun Puncak
Sumber :
  • Istimewa

BOGOR, VIVABOGOR – Baru-baru ini mencuat persoalan terkait polemik pergantian kepengurusan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Jami’ Atta’awun di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor. Serah terima kepengurusan periode 2026–2029 telah dilaksanakan pada Mei 2026 kepada kepengurusan baru dianggap belum bisa menjalankan tugas yang seharusnya. Dibalik polemik yang mencuat di publik tersebut, tidak ada salahnya kita kembali mengingat seperti apa sejarah berdirinya Masjid Jami' Atta'Awun.

img_title Ribuan Pohon Teh Dibabat di Pangalengan, Pekerja Khawatir Kehilangan Mata Pencaharian

Sejarah Masjid Jami' Atta'Awun Bogor

Masjid Jami Atta'awun itu salah satu bangunan terikonik. Bahkan populer di kawasan Puncak, Cisarua, Kabupaten Bogor. Letak masjid ini ada di tengah hamparan kebun teh yang hijau disertai udara pegunungan yang sejuk. Masjid ini bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah saja. Bahkan, bisa berfungsi sebagai destinasi wisata religius, sekaligus tempat untuk istirahat (rest area) utama bagi wisatawan yang melewati jalur Puncak.

img_title Pohon Johar Ratusan Tahun Masih Kokoh di Megamendung, Jadi Saksi Sejarah Jalur Alternatif Puncak

1. Awal Berdiri

Awal sejarah berdirinya Masjid Atta'awun, yakni pada masa 1980-an. Awalnya, di lokasi tempat berdiri masjid saat ini, ada sebuah surau atau mushola kecil yang sangat sederhana. Bangunan itu didirikan sekitar tahun 1987 oleh PT Perkebunan Nusantara VIII (PTPN VIII) khusus sebagai sarana ibadah bagi para pekerja dan buruh petik teh di sekitar perkebunan. Seiring bertambahnya arus wisatawan yang melintasi kawasan Puncak, mushola tersebut diperluas secara bertahap. Lalu berganti nama menjadi Masjid Al-Muttaqin. Meski sudah diperluas, kapasitasnya tetap terlalu kecil untuk menampung lonjakan jemaah, terutama saat pelaksanaan shalat Jumat dan libur akhir pekan.

img_title Pemdes Buanajaya Gelar Syariahan, Perkuat Silaturahmi dan Pembinaan Keagamaan

2. Prakarsa Pembangunan dan Sinergi Lahan

Perubahan besar terjadi pada pertengahan dekade 1990-an. Gubernur Jawa Barat saat itu, R. Nana Nuriana, menyadari kebutuhan akan tempat ibadah yang lebih representatif di kawasan Puncak. Dalam sebuah kesempatan saat singgah di Puncak, beliau melihat sendiri bagaimana para jemaah dan wisatawan harus berdesak-desakan hingga meluber ke luar area masjid untuk melaksanakan shalat. Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan PTPN VIII meluncurkan proyek pembangunan ulang masjid skala besar. PTPN VIII memberikan hibah/wakaf lahan seluas sekitar 1 hektare di area perkebunan teh Puncak Pass untuk dijadikan tapak bangunan masjid baru beserta fasilitas penunjangnya.

3. Filosofi Nama "Atta'awun" dan Dana Swadaya Umat

Proses pembangunan masjid yang lebih besar dimulai sekitar tahun 1997. Nama Atta'awun secara resmi dipilih untuk menggantikan nama Al-Muttaqin. Makna Bahasa: Kata Atta'awun (التعاون) berasal dari bahasa Arab yang secara harfiah berarti saling tolong-menolong, bekerja sama, atau gotong royong. Filosofi Pendanaan: Penamaan ini secara langsung mencerminkan proses pembangunannya. Proyek megah ini dibiayai melalui partisipasi swadaya dan donasi umat Islam serta masyarakat Jawa Barat secara gotong royong. Sumbangan masyarakat dihimpun secara kolektif dari berbagai elemen, mulai dari nominal terkecil hingga bantuan pemerintah daerah dan para dermawan. Meski sempat tersendat akibat Krisis Moneter (Krismon) yang melanda Indonesia pada tahun 1998, pembangunan masjid ini berhasil diselesaikan dan diresmikan pada kurun waktu 1999–2000.

4. Keunikan Arsitektur dan Daya Tarik

Masjid Atta'awun dirancang dengan memadukan unsur estetika modern, nilai keislaman, dan penyatuan dengan alam sekitar: Kubah Kaca Transparan: Ciri khas paling mencolok adalah bentuk kubahnya yang menyerupai jamur atau kebun teh dengan penggunaan material kaca transparan, memungkinkan cahaya alami masuk menerangi ruang utama shalat. Elemen Kayu dan Air: Interior masjid banyak menggunakan ornamen kayu yang hangat dan alami. Di sekitar bangunan masjid dialiri gemericik air alami dari mata air pegunungan serta dilengkapi dengan kolam-kolam air tawar di area pelataran. Pemandangan Lanskap: Terletak di ketinggian, masjid ini menyajikan pemandangan panorama kebun teh dan kabut khas Puncak dari area pelataran terbuka.

5. Masjid Atta'awun Hari Ini

Saat ini, Masjid Atta'awun berada di bawah pengelolaan dan merupakan aset Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Masjid ini berfungsi tidak hanya sebagai pusat aktivitas keagamaan masyarakat lokal, tetapi juga menjadi simpul silaturahmi bagi wisatawan dari berbagai daerah yang berkunjung ke kawasan Bogor dan Puncak.