Pacaran Islami, Memangnya Ada? Ini Penjelasan dalam Pandangan Islam
- Ilustrasi
Bogor, VIVA Bogor – Istilah “pacaran islami” kini sering terdengar di media sosial. Banyak yang berkata, “Kami pacaran islami kok, nggak pegang-pegangan, cuma saling mengingatkan shalat.” Namun, dalam pandangan Islam, tidak ada yang namanya pacaran islami.
Mengapa begitu? Karena konsep pacaran itu sendiri tidak dikenal dalam Islam. Islam hanya mengenal dua jenis hubungan antara laki-laki dan perempuan:
- Belum halal (bukan mahram) → wajib menjaga jarak dan adab.
- Sudah halal (menikah) → bebas menunjukkan kasih sayang.
Tidak ada ruang di antara keduanya yang disebut “pacaran islami.”
Islam Mengatur, Bukan Melarang Cinta
Islam sama sekali tidak melarang cinta. Cinta adalah fitrah manusia. Tapi Islam mengatur bagaimana cara menyalurkannya dengan terhormat.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada obat bagi dua orang yang saling mencintai selain menikah.” (HR. Ibnu Majah)
Artinya, kalau memang cinta, salurkan dengan cara halal, bukan pacaran. Karena cinta sejati bukan tentang saling memiliki sebelum waktunya, melainkan saling menjaga sampai waktunya tiba.
“Pacaran Islami” Hanya Kedok dari Pacaran Biasa
Sebagian orang mengklaim pacaran mereka “islami” karena:
- Tidak bersentuhan,
- Tidak jalan berdua,
- Hanya saling mengingatkan ibadah.
Tapi faktanya, rasa cinta dan keterikatan hati tetap muncul. Dari situ, muncul keinginan untuk lebih dekat, berbagi rahasia, dan akhirnya melanggar batas tanpa sadar.
Rasulullah SAW mengingatkan: “
Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan kecuali yang ketiganya adalah setan.” (HR. Tirmidzi)
Artinya, sekalipun “islami” di permukaan, jika dilakukan di luar koridor syariat, tetap berpotensi pada dosa.
Alternatif yang Diajarkan: Ta’aruf
Kalau benar-benar ingin mengenal seseorang dengan niat menikah, Islam sudah memberikan jalan yang jelas: ta’aruf.
Dalam ta’aruf, kedua pihak saling mengenal dengan pendamping atau wali, tidak berduaan, dan fokus membicarakan hal penting seperti:
- Kepribadian,
- Visi hidup,
- Nilai keluarga,
- dan kesiapan menikah.
Bukan membicarakan “aku kangen kamu” atau “kita cocok banget deh,” tapi visi pernikahan dan masa depan.
Ta’aruf bukan tentang jatuh cinta secepat mungkin, tapi mengenal dengan cara yang benar.