Kisah Taubat Pencuri di Rumah Ulama
- Adobe Stock
Satu hal yang telah dilakukan Malik bin Dinar adalah sebuah akhlak tingkat tinggi. Ia bisa saja dan berhak untuk mengusir kemudian melaporkan pencuri pada pihak keamanan untuk ditegakkan hukum padaanya.
Namun demikian, Malik justru memilih untuk merangkul pencuri dan mengajaknya bertaubat. Ia memberi kesempatan si pencuri untuk menjemput hidayah.
Kita tidak tahu pintu hidayah bagi seseorang akan datang melalui siapa dan dengan cara bagaimana. Karena hidayah adalah milik Allah.
Allah berfirman:
وَاللّٰهُ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ
Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk) (QS. Al-Baqarah [2]: 213).
Kendati demikian, beruntung jika kita menjadi jalan orang lain untuk mendapatkannya. Siapa saja yang bisa membawa orang lain menuju jalan Allah akan diganjar dengan kebaikan dari Allah yang amat besar.
Rasulullah bersabda:
مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ لَهُ أَجْرُهَا وَمِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
Siapa saja yang menunjukkan jalan kebaikan dan kemudian jalan itu diamalkan, maka baginya pahala seperti orang yang mengamalkannya. Tidak berkurang sedikitpun pahalanya (HR. Ibnu Majah no. 203).
Wallahu a’lam bi ash-shawab.