Stunting dan Pernikahan Dini di Bogor, Program BRUS Siapkan Remaja Hadapi Masa Depan

Sosialisasi Anak Usia Remaja
Sumber :
  • Istimewa

Ia juga mengungkapkan bahwa angka kemiskinan ekstrem di wilayah Bogor menjadi salah satu faktor yang mendorong tingginya kasus pernikahan dini dan stunting pada anak.

img_title Turnamen Basket 4x4 Pertama di Kota Bogor Diikuti Ratusan Pebasket Remaja

"Kita sama-sama tahu, kalau kita buka data BPS, di Kabupaten Bogor ini kemiskinan cukup ekstrem. Di Jawa Barat, angka kemiskinan yang paling tinggi ada di Kabupaten Bogor, termasuk Jonggol," jelasnya.

Menurutnya, program ini merupakan bagian dari amanah masyarakat yang harus ditunaikan melalui pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah. Dana tersebut kemudian dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk program-program yang bermanfaat.

img_title Di Balik Perut yang Membesar: Perjuangan NS, 15 Tahun, Mencari Keadilan di Rancabungur

"Kami bekerja sama dengan Kementerian Agama, Yonpomad, dan Dinas Sosial Kabupaten Bogor agar amanah ini bisa kami tunaikan sebaik-baiknya," ujarnya.

Kementerian Agama menilai program BRUS menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi masa depan, terutama dalam menghadapi kehidupan berkeluarga. Kasubdit Bina Kelembagaan dan Kerja Sama Zakat Wakaf Kemenag RI, Muhibbudin, menyampaikan bahwa edukasi ini penting agar remaja tidak salah memahami konsep pernikahan.

img_title Kasus Rudapaksa Remaja di Rancabungur Bogor, Pemdes Cimulang Prioritaskan Perlindungan dan Pemulihan Korban

"Anak remaja sekolah ini berada pada golden age. Mereka adalah future leaders, pemimpin masa depan, yang harus mendapatkan asupan informasi dan pengetahuan tentang bagaimana menjalani masa remajanya, sehingga ke depan lebih siap menuju usia dewasa," ungkap Muhibbudin.

Ia menegaskan bahwa stigma "married is scary" tidaklah benar. Menikah seharusnya dipandang sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab, baik secara sosial maupun kepada Allah. Karena itu, pembekalan seperti ini penting agar remaja memahami kehidupan dewasa dan pernikahan dengan benar.

Selain stunting, pernikahan dini juga berisiko meningkatkan angka perceraian karena pasangan muda belum siap secara emosional dan pengetahuan. Menikah di usia yang belum matang dapat berdampak negatif pada kehidupan keluarga. Ia menekankan bahwa pernikahan di usia muda tanpa pemahaman yang baik menjadi salah satu penyebab tingginya angka perceraian saat ini.

Sebagai solusi, Kemenag juga menghadirkan program pemberdayaan ekonomi berbasis Kantor Urusan Agama (KUA) untuk membantu pasangan muda lebih mandiri secara finansial.

"Kementerian Agama juga punya program pengembangan ekonomi umat berbasis KUA untuk memberikan stimulasi ekonomi kepada pasangan muda yang punya potensi usaha. Mereka diberikan pelatihan dan modal agar secara ekonomi bisa meningkat," lanjutnya.

Halaman Selanjutnya
img_title