Hal Penting Soal Keputusan Menikah Dini Pada Anak
- Freepik
JAKARTA, VIVABOGOR – Keputusan menikah dini tidak berdiri sendiri. Itu dipengaruhi ekosistem pengasuhan yang lebih luas. Literasi orangtua yang rendah soal perkembangan anak dan remaja, pendidikan, serta kesehatan reproduksi bisa membuat pernikahan dini dipandang sebagai solusi atau jalan cepat menuju kedewasaan.
Ada juga peran dari taktor komunikasi keluarga. Anak yang tidak punya ruang aman untuk berdiskusi dan menyampaikan pendapat dinilai lebih rentan ambil keputusan besar di luar konteks keluarga.
Pemenuhan kebutuhan emosional yang tidak optimal di rumah bisa mendorong anak mencari rasa aman dan penghargaan melalui pernikahan.
“Dalam keluarga atau budaya yang memandang pernikahan sebagai simbol kedewasaan atau tujuan utama masa depan anak, menikah dini kerap dianggap wajar,” ujar psikolog anak dan remaja, Mariska Johana.
Baginya, pencegahan perkawinan anak perlu dilakukan komprehensif melalui edukasi orangtua, peningkatan literasi kesehatan reproduksi, penguatan komunikasi keluarga. Juga pembukaan akses anak terhadap pilihan masa depan di luar pernikahan.
Perkawinan pada usia anak tidak dianjurkan, sebab tidak sejalan dengan tahap perkembangan kognitif, emosional, dan identitas anak serta remaja.
Menurut Mariska, pada usia anak dan remaja, individu masih berada dalam fase pembentukan jati diri, penguatan fungsi sosial, serta pengembangan kemampuan pengambilan keputusan. Pernikahan menuntut kesiapan kelola konflik, memahami konsekuensi jangka panjang, dan menjalankan tanggung jawab rumah tangga.
“Secara neurologis, area otak yang berperan dalam perencanaan jangka panjang, pertimbangan risiko, kontrol impuls, dan pengelolaan emosi baru matang sepenuhnya pada usia pertengahan dua puluhan,” kata Mariska.
Ketidakmatangan itu, ujarnya, membuat anak dan remaja lebih rentan bersikap impulsif dan mengambil keputusan berdasarkan dorongan sesaat. Kondisi ini ada dampak pada kesulitan menyelesaikan konflik, komunikasi yang tidak efektif, kecemburuan yang tidak proporsional, hingga penggunaan strategi penyelesaian masalah yang tidak sehat.
Tekanan tambahan seperti tuntutan ekonomi, relasi dengan keluarga pasangan, peran pengasuhan, serta ekspektasi sosial juga dinilai memperbesar risiko stres psikologis, kecemasan, depresi, perasaan terjebak, dan munculnya relasi tidak sehat, termasuk kekerasan dalam rumah tangga.