Peringatan Penting Bagi Masyarakat, Efek Samping Rahim Copot

Ilustrasi ibu hamil./freepik
Sumber :
  • Freepik

Jakarta, Viva Bogor – Masyarakat diingatkan agar cari tenaga medis yang kompeten memberikan penanganan pada ibu hamil. Termasuk rutin kontrol ke dokter agar menghindari risiko seperti kasus rahim copot.

img_title Menangkal Racun Syubhat dan Hoaks: Mengapa Tabayyun dan Iman Menjadi Benteng Keselamatan Jiwa?

Semua dokter kandungan selalu mendoakan pasien agar dapat melewati masa persalinan dengan tenang dan nyaman. Juga tanpa harus bertemu berbagai faktor risiko yang membahayakan nyawa sang ibu maupun janin dalam kandungan.

Ada penjelasan soal efek samping yang bisa terjadi pada tubuh wanita jika alami rahim copot. "(Pasien) enggak bisa punya anak lagi, kalaupun (rahim) disambung itu agak tricky, karena pembuluh darahnya pasti akan ada yang terlepas dan yang lain sebagainya," kata dokter spesialis obstetri dan ginekologi lulusan Universitas Indonesia, dr. Amarylis Febrina Choirin Nisa Fathoni.

img_title Bebas Ribet Administrasi, Dedie Rachim Pastikan Pasien Darurat di RS Langsung Ditangani

Soal temuan kasus yang saat ini santer dibicarakan masyarakat, lanjutnya, rahim yang telah lepas menyebabkan wanita tidak mampu memiliki anak lagi. Sebab, tidak ada tempat bagi sperma dan telur melakukan pembuahan.

Pembuahan sendiri baru akan berhasil jika embrio berkembang dalam tuba falopi. "Jadi kan kalau embrio kan dia terjadinya pembuahan di tuba, ketemu sama sperma dan sel telur, jadilah embrio. Embrio akan jalan ke rahim. Kalau rahimnya enggak ada terus jalan ke mana?" ujarnya.

img_title YKI Kota Bogor Galang Dana Bangun Rumah Sahabat Kanker, Jadi Tempat Pasien Saling Menguatkan

Wanita yang alami kejadian itu pun akan sulit kembali alami menstruasi setiap bulan. Lanjutnya, ovarium yang tersisa masih menjalankan fungsi hormonal sebagaimana semestinya.

"Sebenarnya tubuh kita masih ovulasi dan (merasa seperti) menstruasi, cuma, ya, darahnya enggak keluar karena keluarnya darah itu dari lapisan endometrium yang meluruh, kalau rahimnya tidak ada, endometrium sudah enggak ada," kata dokter yang punya sertifikasi sebagai Konsultan Laktasi Internasional (IBCLC) itu.

Rahim wanita disokong sejumlah struktur kuat, seperti ligamentum dan jaringan penopang lain. Pada kasus tertentu, penanganan dalam persalinan yang tidak tepat, seperti terlalu cepat menarik plasenta atau hal-hal yang tidak sesuai prosedur dapat menyebabkan pasien mengalami inversio uteri.

Perlu diketahui, akhir-akhir ini masyarakat dihebohkan dengan temuan kasus rahim copot yang dibagikan oleh pemengaruh (influencer), dr. Gia Pratama ke media sosial.

Halaman Selanjutnya
img_title