Merasa Tak Berarti dalam Dakwah? Mungkin Diam-Diam Andalah Wajah Islam yang Dilihat Seseorang

Sebesar apapun perannya tidak ada yang sia-sia dalam dakwah.
Sumber :
  • Pexels

Bogor, VIVA Bogor – Tidak semua orang dipanggil Allah untuk berdiri di atas mimbar. Tidak semua dianugerahi kemampuan menulis buku, berbicara di hadapan ribuan orang, atau dikenal sebagai tokoh agama. Namun, bukan berarti mereka yang berjalan dalam sunyi tidak memiliki arti di sisi Allah.

img_title Ada SESI di The Jungle Bogor, Kenalkan Jejak Sejarah Islam Lewat Replika Peninggalan Rasulullah

Bayangkan seorang penempuh jalan yang datang kepada gurunya saat senja mulai turun. Dengan hati yang penuh kegelisahan ia bertanya, "Siapakah aku di hamparan dakwah ini? Aku bukan orang besar. Aku hanya seseorang yang sering jatuh, bangkit, lalu kembali belajar. Apakah hidupku memiliki makna?"

Sang guru tersenyum. Ia memandang jauh ke cakrawala, lalu berkata, "Engkau bertanya tentang nilaimu di bumi, padahal sering kali nilaimu ditulis di langit."

img_title Mental Health Remaja Makin Disorot, Bagaimana Islam Menjadi Penawar Kecemasan di Era Modern?

Kalimat itu mengingatkan bahwa ukuran manusia dan ukuran Allah tidak selalu sama. Manusia mudah terpukau oleh popularitas, sementara Allah melihat keikhlasan yang tersembunyi. Seperti embun yang hanya setitik air tetapi mampu membasahi dedaunan, seperti bintang yang tampak kecil namun menjadi petunjuk musafir, atau seperti benih yang terkubur dalam tanah sebelum tumbuh menjadi pohon yang menaungi banyak orang.

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap Muslim sesungguhnya adalah jendela tempat orang lain melihat keindahan Islam. Ketika kita jujur, ada orang yang percaya bahwa iman melahirkan amanah. Saat kita mampu menahan amarah, ada hati yang menyadari bahwa mengenal Allah menghadirkan ketenangan. Ketika kita tersenyum kepada mereka yang lemah, ada jiwa yang merasakan bahwa agama ini adalah rahmat, bukan beban.

img_title Dakwah Tak Selalu di Mimbar: Seni, Olahraga, dan Ruang Kreatif Jadi Jalan Menyentuh Hati Remaja

Sebaliknya, ketika seorang Muslim berlaku kasar, ingkar janji, atau gemar menyakiti orang lain, bukan hanya dirinya yang dinilai buruk. Tidak sedikit orang yang akhirnya memiliki prasangka keliru terhadap Islam karena akhlak yang mereka lihat dari pemeluknya. Oleh sebab itu, setiap perilaku seorang Muslim adalah bagian dari dakwah, meskipun tanpa sepatah kata.

Karena itu, jika belum mampu menjadi lentera yang menerangi banyak orang, setidaknya jangan menjadi kabut yang menghalangi cahaya. Jika belum mampu mengobati luka orang lain, jangan menambah luka di hati mereka. Betapa banyak orang yang hampir mendekat kepada Allah, tetapi mengurungkan niatnya karena bertemu dengan sikap kasar dari orang yang mengaku berdakwah.

Halaman Selanjutnya
img_title