Menasihati Tanpa Menyakiti: Inilah Etika Mengoreksi Kesalahan Sesama Muslim Menurut Al-Qur'an dan Sunah

Memberikan nasihat adalah salah satu bentuk kepedulian terhadap sesama.
Sumber :
  • Pexels

Bogor, VIVA Bogor – Memberikan nasihat adalah salah satu bentuk kepedulian terhadap sesama. Namun, niat yang baik tidak selalu menghasilkan kebaikan apabila disampaikan dengan cara yang keliru. Tidak sedikit hubungan persahabatan, keluarga, bahkan persaudaraan sesama Muslim menjadi renggang bukan karena isi nasihatnya, melainkan karena cara menyampaikannya yang kasar, merendahkan, atau mempermalukan orang lain. Padahal, Islam mengajarkan bahwa menyampaikan kebenaran harus berjalan seiring dengan akhlak yang mulia.

img_title Dakwah Tak Selalu di Mimbar: Seni, Olahraga, dan Ruang Kreatif Jadi Jalan Menyentuh Hati Remaja

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Demikian pula setiap orang membutuhkan orang lain yang mengingatkan ketika mulai menyimpang. Akan tetapi, nasihat yang disampaikan dengan emosi sering kali hanya membangkitkan rasa malu, marah, atau sikap defensif. Sebaliknya, nasihat yang lahir dari kasih sayang akan lebih mudah diterima dan mampu menyentuh hati.

Allah SWT memberikan pedoman dalam berdakwah melalui firman-Nya: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik." (QS. An-Nahl: 125)

img_title Dakwah dengan Kasih Sayang: Cara Menyentuh Hati Generasi Muda Tanpa Menghakimi

Ayat ini menjadi prinsip utama dalam memberikan nasihat. Hikmah berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya. Artinya, seorang Muslim perlu memilih waktu yang tepat, memahami kondisi orang yang dinasihati, serta menggunakan bahasa yang santun agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan lapang dada.

Bahkan kepada Fir'aun, penguasa yang terkenal zalim, Allah tetap memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berbicara dengan lembut.

img_title Beda Suku dan Bangsa Bukan untuk Bermusuhan: Memahami Makna Ta'aruf sebagai Fondasi Persaudaraan dalam Islam

Allah SWT berfirman: "Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut. Mudah-mudahan ia sadar atau takut." (QS. Thaha: 44)

Jika kepada Fir'aun saja diperintahkan menggunakan tutur kata yang lembut, maka terlebih lagi kepada saudara sesama Muslim yang sama-sama menginginkan ridha Allah. Hal ini menunjukkan bahwa kelembutan bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari kekuatan akhlak seorang mukmin.

Rasulullah SAW juga mencontohkan pentingnya kelembutan dalam setiap urusan. Beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala urusan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi pengingat bahwa cara penyampaian memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan sebuah nasihat. Kalimat yang lembut mampu membuka pintu hati, sedangkan kata-kata kasar sering kali justru menutupnya.

Halaman Selanjutnya
img_title