Jangan Sampai Keropos di Dalam: Muhasabah Diri untuk Memperkuat Fondasi Iman yang Mulai Luntur
- Pexels
Bogor, VIVA Bogor – Bangunan yang tampak megah dari luar belum tentu benar-benar kuat. Tidak sedikit gedung yang akhirnya roboh karena kerusakan terjadi pada bagian fondasi yang tidak terlihat. Hal yang sama juga dapat terjadi pada kehidupan seorang Muslim. Dari luar seseorang mungkin tampak baik, tetap menjalankan rutinitas ibadah, bahkan aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan. Namun, jika hati mulai jauh dari Allah, keikhlasan memudar, dan iman perlahan melemah, sesungguhnya fondasi spiritualnya sedang mengalami keropos.
Karena itulah Islam mengajarkan pentingnya muhasabah, yaitu mengintrospeksi diri sebelum datang hari ketika seluruh amal dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Muhasabah bukanlah kebiasaan menyalahkan diri secara berlebihan, melainkan proses jujur untuk melihat kekurangan, memperbaiki niat, dan memperbarui hubungan dengan Allah.
Allah SWT berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini menjadi dasar pentingnya evaluasi diri. Seorang Muslim tidak hanya sibuk merencanakan masa depan dunia, tetapi juga mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat. Setiap amal, sekecil apa pun, akan diperhitungkan oleh Allah. Muhasabah juga membantu seseorang menyadari bahwa menurunnya kualitas iman sering kali tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia dimulai dari hal-hal kecil yang terus dibiarkan. Misalnya, mulai menunda salat, jarang membaca Al-Qur'an, enggan menghadiri majelis ilmu, terlalu sibuk mengejar urusan dunia, atau membiarkan hati dipenuhi iri, sombong, dan prasangka buruk. Jika tidak segera diperbaiki, kebiasaan tersebut dapat mengikis kekuatan iman sedikit demi sedikit.
Allah SWT mengingatkan: "Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. Al-Hasyr: 19)
Lupa kepada Allah bukan hanya berarti meninggalkan ibadah, tetapi juga hidup tanpa menghadirkan Allah dalam setiap keputusan dan aktivitas. Akibatnya, seseorang kehilangan arah, mudah gelisah, dan sulit menemukan ketenangan meskipun memiliki berbagai kenikmatan dunia.