Menangkal Racun Syubhat dan Pemikiran Menyimpang: Kuatkan Akar Pemahaman Agama agar Iman Tetap Terjaga
- Pexels
Bogor, VIVA Bogor – Di era digital, informasi dapat diakses hanya dalam hitungan detik. Kemudahan ini membawa banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan tantangan baru bagi umat Islam. Berbagai pemikiran, ideologi, dan opini yang bertentangan dengan ajaran Islam tersebar luas melalui media sosial, video, podcast, hingga forum diskusi. Tidak sedikit yang dikemas dengan bahasa ilmiah, logis, dan menarik sehingga mampu menimbulkan keraguan atau syubhat di dalam hati orang yang belum memiliki dasar ilmu agama yang kuat.
Dalam Islam, syubhat adalah perkara yang samar sehingga seseorang kesulitan membedakan mana yang benar dan mana yang keliru. Jika tidak disikapi dengan ilmu dan kebijaksanaan, syubhat dapat mengikis keyakinan sedikit demi sedikit. Oleh karena itu, benteng utama seorang Muslim bukanlah sekadar kecerdasan intelektual, melainkan akidah yang kokoh dan pemahaman agama yang benar berdasarkan Al-Qur'an dan sunah.
Allah SWT berfirman: "Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu." (QS. Muhammad: 19)
Menariknya, Allah mendahulukan perintah untuk mengetahui (fa'lam) sebelum memerintahkan amal. Ini menunjukkan bahwa ilmu merupakan fondasi keimanan. Semakin baik seseorang mengenal Allah dan memahami ajaran Islam, semakin kecil kemungkinan ia mudah terpengaruh oleh pemikiran yang menyimpang.
Allah SWT juga mengingatkan: "Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra': 36)
Ayat ini mengajarkan pentingnya bersikap kritis dan bertanggung jawab dalam menerima informasi. Seorang Muslim tidak boleh mudah mempercayai setiap pendapat hanya karena sedang viral atau disampaikan oleh orang yang populer. Semua harus dikembalikan kepada Al-Qur'an, sunah Rasulullah SAW, serta penjelasan para ulama yang memiliki kompetensi.
Rasulullah SAW juga memberikan peringatan tentang bahaya perkara yang samar. Beliau bersabda: "Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Barang siapa menjaga diri dari perkara syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya." (HR. Bukhari dan Muslim)