Belajar dari Filosofi Pohon yang Baik: Mengapa Akidah yang Kokoh Menjadi Akar Keselamatan Iman?
- Pexels
Bogor, VIVA Bogor – Di tengah derasnya arus informasi, perubahan gaya hidup, dan berbagai pemikiran yang silih berganti, seorang Muslim membutuhkan sesuatu yang mampu membuatnya tetap teguh. Bukan sekadar pengetahuan atau semangat sesaat, melainkan akidah yang kokoh. Tanpa fondasi keimanan yang kuat, seseorang akan mudah goyah ketika menghadapi ujian, godaan, maupun keraguan.
Al-Qur'an memberikan sebuah perumpamaan yang sangat indah tentang pentingnya akidah melalui filosofi pohon yang baik. Pohon tidak akan mampu tumbuh tinggi, menghasilkan buah, dan bertahan menghadapi badai tanpa akar yang menghunjam ke dalam tanah. Begitu pula kehidupan seorang Muslim. Amal saleh, akhlak mulia, dan ibadah yang istiqamah hanya akan tumbuh dari akar akidah yang kuat.
Allah SWT berfirman: "Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan izin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat." (QS. Ibrahim: 24–25)
Mayoritas ulama tafsir menjelaskan bahwa "kalimat yang baik" dalam ayat tersebut adalah kalimat tauhid, Laa ilaaha illallah. Tauhid menjadi akar utama yang menancap kuat di dalam hati seorang mukmin. Dari akar inilah tumbuh cabang-cabang berupa ibadah, akhlak, kejujuran, kesabaran, dan berbagai amal saleh lainnya.
Sebaliknya, jika akar pohon rapuh, pohon akan mudah tumbang ketika diterpa angin. Demikian pula iman. Ketika akidah dibangun hanya atas dasar ikut-ikutan atau pengetahuan yang dangkal, seseorang akan mudah dipengaruhi keraguan, hawa nafsu, maupun tren yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Karena itu, Allah SWT memerintahkan setiap Muslim untuk terus memperkuat keimanannya melalui ilmu dan keyakinan. Allah berfirman: "Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu." (QS. Muhammad: 19)
Ayat ini menarik karena Allah mendahulukan perintah untuk mengetahui (fa'lam) sebelum memerintahkan istigfar. Hal tersebut menunjukkan bahwa ilmu tentang Allah atau ma'rifatullah merupakan fondasi utama sebelum seseorang memperbanyak amal.