Digerogoti Pikiran Sendiri: Mengapa Overthinking Bisa Mengikis Perlahan Nilai Tawakal Seorang Muslim?
- Pexels
Bogor, VIVA Bogor – Overthinking atau kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan menjadi fenomena yang banyak dialami di era modern. Seseorang terus mengulang berbagai kemungkinan di dalam pikirannya, mengkhawatirkan masa depan, menyesali masa lalu, atau takut menghadapi sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi. Akibatnya, hati menjadi gelisah, sulit tidur, kehilangan semangat, bahkan sulit menikmati nikmat yang telah Allah berikan.
Islam tidak melarang seseorang berpikir, merencanakan, atau berhati-hati. Justru Al-Qur'an berkali-kali mengajak manusia untuk menggunakan akalnya. Namun, ketika pikiran yang berlebihan berubah menjadi kecemasan yang terus-menerus hingga menghilangkan rasa percaya kepada ketetapan Allah, di situlah overthinking mulai mengikis nilai tawakal.
Allah SWT berfirman: "Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal." (QS. Ali 'Imran: 159)
Ayat ini memberikan urutan yang sangat jelas. Seorang Muslim diperintahkan untuk berpikir, bermusyawarah, mengambil keputusan, kemudian bertawakal. Artinya, setelah ikhtiar dilakukan, hati tidak lagi dibiarkan terus-menerus terjebak dalam kecemasan yang melelahkan.
Overthinking sering kali muncul karena seseorang ingin mengendalikan semua hasil kehidupannya. Padahal, tidak semua hal berada dalam kuasa manusia. Ada wilayah ikhtiar yang menjadi tanggung jawab manusia, tetapi ada pula wilayah takdir yang sepenuhnya menjadi ketetapan Allah. Ketika seseorang berusaha menguasai sesuatu di luar kemampuannya, kegelisahan pun semakin besar.
Allah SWT mengingatkan: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini mengajarkan bahwa keterbatasan manusia dalam mengetahui masa depan seharusnya menjadi alasan untuk semakin bersandar kepada Allah, bukan semakin larut dalam kekhawatiran.
Rasulullah SAW juga memberikan teladan tentang pentingnya tawakal setelah berusaha. Beliau bersabda: "Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang." (HR. Tirmidzi)