Antara Dzulhijjah dan Muharram: Pesan Spiritual yang Sering Terlupakan Saat Pergantian Tahun Hijriah
- Pexels
Bogor, VIVA Bogor – Dzulhijjah dikenal sebagai bulan yang dipenuhi ibadah besar. Di dalamnya terdapat pelaksanaan ibadah haji, puasa Arafah, penyembelihan kurban, serta hari-hari tasyrik yang penuh dengan zikir dan syukur. Sementara Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT dan menjadi penanda awal tahun baru Hijriah.
Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram." (QS. At-Taubah: 36)
Ayat ini menunjukkan bahwa Muharram memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Bahkan Rasulullah SAW menyebutnya sebagai bulan Allah. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: "Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram." (HR. Muslim)
Peralihan dari Dzulhijjah menuju Muharram sesungguhnya mengajarkan sebuah pelajaran penting tentang kesinambungan ibadah. Seorang Muslim tidak seharusnya hanya bersemangat beribadah pada momen tertentu, lalu kembali lalai setelahnya.
Semangat yang dibangun selama Dzulhijjah hendaknya menjadi bekal untuk memasuki tahun baru Hijriah dengan kualitas iman yang lebih baik. Sering kali manusia menganggap pergantian tahun sebagai kesempatan membuat target duniawi baru. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Namun Islam mengajarkan bahwa target terbesar seorang mukmin adalah meningkatkan ketakwaan dan memperbaiki amal.
Allah SWT berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok." (QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini mengajarkan pentingnya muhasabah atau evaluasi diri. Sebelum memasuki Muharram, setiap Muslim sebaiknya bertanya kepada dirinya sendiri: apakah tahun yang berlalu telah mendekatkannya kepada Allah atau justru menjauhkannya? Transisi antara Dzulhijjah dan Muharram juga mengingatkan bahwa hidup terus bergerak.
Kesempatan beramal yang telah berlalu tidak akan kembali. Karena itu, penghujung Dzulhijjah menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak istigfar, memohon ampun atas segala kekurangan, serta memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian." (HR. Tirmidzi)