Menghitung Hari Menuju 1 Muharram 1448 H: Saatnya Menutup Akhir Tahun Hijriah dengan Istigfar dan Muhasabah Diri
- Pexels
Bogor, VIVA Bogor – Menjelang datangnya 1 Muharram 1448 Hijriah, umat Islam kembali berada di penghujung satu perjalanan waktu yang penuh dengan berbagai peristiwa, ujian, nikmat, dan kesempatan beramal.
Pergantian tahun dalam kalender Hijriah bukan sekadar pergantian angka, tetapi momentum untuk melakukan evaluasi diri sebelum membuka lembaran baru kehidupan. Setiap akhir tahun menjadi saat yang tepat untuk merenungkan perjalanan yang telah dilalui.
Ada amal yang semoga diterima Allah SWT, tetapi ada pula kesalahan dan kelalaian yang perlu segera diperbaiki. Karena itu, salah satu amalan yang sangat dianjurkan menjelang pergantian tahun Hijriah adalah memperbanyak istigfar dan taubat.
Allah SWT berfirman: "Dan hendaklah kamu memohon ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan." (QS. Hud: 3)
Ayat ini menunjukkan bahwa istigfar bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan jalan menuju rahmat, ketenangan, dan keberkahan hidup. Seorang Muslim yang menyadari kekurangannya akan lebih mudah memperbaiki diri dibandingkan mereka yang merasa tidak pernah salah.
Menjelang 1 Muharram, penting bagi setiap Muslim untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Cobalah melihat kembali perjalanan satu tahun terakhir. Apakah salat semakin baik? Apakah hubungan dengan orang tua semakin harmonis? Apakah lisan lebih terjaga dari ghibah dan fitnah? Ataukah justru masih banyak kebiasaan buruk yang terus dipertahankan?
Allah SWT berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok." (QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini menjadi dasar pentingnya evaluasi diri dalam Islam. Seorang mukmin tidak hanya sibuk menilai orang lain, tetapi lebih dahulu menilai dirinya sendiri. Rasulullah SAW sendiri merupakan teladan dalam memperbanyak istigfar. Padahal beliau adalah manusia yang telah diampuni dosa-dosanya.
Dalam sebuah hadis disebutkan: "Demi Allah, sungguh aku beristigfar kepada Allah dan bertobat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari." (HR. Bukhari)
Jika Rasulullah SAW yang maksum saja memperbanyak istigfar, maka manusia biasa tentu lebih membutuhkan ampunan Allah setiap saat. Selain memperbanyak istigfar, penghujung tahun Hijriah juga menjadi waktu yang baik untuk memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.