Refleksi Penghujung Dzulhijjah 1447 H: Saatnya Menata Hati dan Mengencangkan Amalan Menjelang Tahun Baru Hijriah
- Pexels
Bogor, VIVA Bogor – Menjelang berakhirnya bulan Dzulhijjah 1447 Hijriah, umat Islam kembali diingatkan bahwa waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun. Bulan yang diawali dengan hari-hari terbaik untuk beramal, disemarakkan oleh ibadah haji, puasa Arafah, kurban, dan Hari Tasyrik, kini perlahan memasuki penghujungnya.
Di titik inilah setiap Muslim diajak untuk berhenti sejenak, melakukan refleksi, dan menata kembali arah perjalanan hidupnya. Pergantian tahun Hijriah bukan sekadar pergantian angka dalam kalender. Lebih dari itu, ia menjadi momentum muhasabah atau evaluasi diri.
Sudah sejauh mana kualitas iman kita bertumbuh selama setahun terakhir? Sudahkah waktu yang Allah berikan dimanfaatkan untuk hal-hal yang mendekatkan diri kepada-Nya, atau justru habis dalam kesibukan yang melalaikan?
Allah SWT berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok." (QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa seorang mukmin tidak hidup tanpa arah. Ia senantiasa mengevaluasi amal yang telah dilakukan dan mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan akhirat.
Penghujung Dzulhijjah juga mengingatkan manusia tentang cepatnya waktu berlalu. Rasanya baru kemarin umat Islam menyambut Ramadan, lalu Idulfitri, hingga kini kembali melewati musim haji dan Iduladha. Semua itu menjadi bukti bahwa umur manusia terus berkurang setiap hari.
Allah SWT bahkan mengabadikan pentingnya waktu dalam firman-Nya: "Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian." (QS. Al-'Asr: 1-2)
Kerugian yang dimaksud bukan hanya soal materi, tetapi hilangnya kesempatan beramal, memperbaiki diri, dan mendekat kepada Allah. Karena itu, menjelang pergantian tahun Hijriah, umat Islam dianjurkan memperbanyak istighfar dan taubat.
Sebab tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Kesibukan dunia sering kali membuat seseorang lalai, baik dalam hubungan dengan Allah maupun dengan sesama manusia.
Rasulullah SAW bersabda: "Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat." (HR. Tirmidzi)
Hadis ini memberikan harapan bahwa pintu taubat selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin kembali kepada Allah dengan tulus. Selain memperbanyak istighfar, penghujung Dzulhijjah juga menjadi waktu yang tepat untuk mengencangkan kembali amalan-amalan harian.