Haru Kepulangan Jemaah Haji 1447 H: Saat Air Mata Tamu Allah Mengiringi Perpisahan dengan Baitullah

Jemaah haji 1447 H
Sumber :
  • Pexels

Bogor, VIVA Bogor – Setiap pertemuan pasti akan berakhir dengan perpisahan. Begitu pula dengan perjalanan suci para jemaah haji yang telah menyelesaikan rangkaian ibadah di Tanah Suci. Memasuki fase kepulangan haji 1447 Hijriah, suasana haru mulai menyelimuti ribuan tamu Allah yang bersiap meninggalkan Makkah dan Madinah untuk kembali ke tanah air masing-masing.

img_title Mental Health Remaja Makin Disorot, Bagaimana Islam Menjadi Penawar Kecemasan di Era Modern?

Bagi banyak jemaah, momen ini bukan sekadar perjalanan pulang. Ada rasa kehilangan yang sulit diungkapkan ketika harus berpisah dengan Ka'bah, Masjidil Haram, dan berbagai tempat bersejarah yang selama ini hanya mereka lihat melalui foto atau tayangan televisi.

Tak sedikit jemaah yang meneteskan air mata saat melaksanakan thawaf wada' atau thawaf perpisahan. Di hadapan Baitullah, mereka memanjatkan doa-doa terakhir, berharap Allah menerima seluruh amal ibadah yang telah dilakukan selama berada di Tanah Suci.

img_title Dakwah Tak Selalu di Mimbar: Seni, Olahraga, dan Ruang Kreatif Jadi Jalan Menyentuh Hati Remaja

Allah SWT berfirman: “Dan bersiaplah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Ayat ini sering menjadi pengingat bahwa hakikat ibadah haji bukan hanya perjalanan fisik menuju Makkah, tetapi juga perjalanan ruhani untuk membawa pulang bekal ketakwaan.

img_title Dakwah dengan Kasih Sayang: Cara Menyentuh Hati Generasi Muda Tanpa Menghakimi

Selama beberapa pekan berada di Tanah Suci, para jemaah telah menjalani berbagai proses yang menguras tenaga sekaligus menguatkan jiwa. Mulai dari thawaf mengelilingi Ka'bah, sa'i antara Shafa dan Marwah, wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah dan Mina, hingga melempar jumrah sebagai simbol perlawanan terhadap hawa nafsu. Semua rangkaian itu bukan sekadar ritual, melainkan pelajaran hidup yang sarat makna.

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa berhaji karena Allah, lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menggambarkan besarnya keutamaan haji yang mabrur. Karena itu, saat masa kepulangan tiba, banyak jemaah merasakan campuran antara rasa syukur, haru, dan kekhawatiran. Syukur karena Allah telah memberikan kesempatan menjadi tamu-Nya.

Haru karena harus meninggalkan tempat yang begitu dicintai. Dan khawatir karena belum tentu Allah memberikan kesempatan yang sama di masa mendatang. Pemandangan para jemaah yang memandangi Ka'bah untuk terakhir kalinya sebelum pulang sering menjadi momen yang menyentuh hati. Banyak yang berdoa agar suatu hari dapat kembali menginjakkan kaki di Tanah Suci.

Halaman Selanjutnya
img_title