Ternyata Shalat Malam Adalah Obat Dari Life After Break Up

Ternyata Shalat Malam Adalah Obat Dari Life After Break Up
Sumber :
  • Yuni Retnowati

Bogor, VIVA Bogor – Kekecewaan dan patah hati kerap menjadi fase paling berat dalam perjalanan hidup seseorang. Perasaan kehilangan, kecemasan, serta turbulensi emosi membuat sebagian orang sulit tidur, kehilangan fokus, bahkan kehilangan arah hidup. Namun, dalam Islam, terdapat satu ibadah yang sejak dahulu diyakini mampu meredakan beban batin: shalat malam (Qiyamul Lail atau Tahajjud).

img_title Hanya Kantongi Kata Maaf, Wali Murid SMPN 1 Rancabungur Pulang dengan Kekecewaan

 

Selain memberikan kedekatan spiritual, sejumlah kajian psikologi dan fisiologi modern menunjukkan bahwa aktivitas ibadah yang dilakukan dengan kesadaran penuh dapat memengaruhi kondisi biologis manusia. Hal ini sejalan dengan pandangan Dr. Hasan Hathout, seorang dokter sekaligus pemikir Islam terkemuka, yang menekankan bahwa kesehatan spiritual berperan besar dalam penyembuhan psikologis.

img_title SPPG Bantarkaret Jadi Sorotan, Distribusi MBG di SDN Gunung Dahu Gagal

 

Dalam suasana hening menjelang fajar, seseorang dapat menumpahkan seluruh keluhan hatinya. Tidak ada hiruk-pikuk, tidak ada gangguan. Hanya seorang hamba yang kembali pada Tuhannya.

img_title FoMO (Fear of Missing Out) : Waspadai, Bisa Jadi Gejala Kurangnya Rasa Syukur

Shalat malam memberi ruang bagi manusia untuk jujur terhadap dirinya sendiri; menangis, mengadu, dan merasakan kembali makna pasrah.

 

Bagi mereka yang tengah dilanda luka setelah patah hati, suasana ini dapat menjadi ruang pemulihan yang sangat kuat. Kesendirian tidak lagi terasa sunyi, tetapi berubah menjadi kesempatan membangun kembali hubungan batin dengan Allah SWT.

 

Dr. Hasan Hathout menjelaskan bahwa ibadah dalam Islam bukan sekadar ritual, melainkan mekanisme self-healing yang berdampak pada tubuh manusia. Dalam berbagai tulisannya, Hathout menyoroti bahwa kondisi spiritual yang damai, menurunkan ketegangan saraf, menstabilkan denyut jantung, meredakan hormon stres, serta memperkuat ketahanan emosional.

 

Menurutnya, ibadah seperti shalat malam menghadirkan ketenangan batin yang masuk akal secara medis. Pada saat seseorang bersujud, detak jantung melambat, napas teratur, dan tubuh berada dalam keadaan yang mendukung pemulihan emosi.

 

Walaupun belum ada penelitian medis yang meneliti shalat malam secara khusus, literatur neuropsikologi modern menjelaskan bahwa aktivitas spiritual mendalam dapat memengaruhi produksi beberapa hormon penting.

 

Dopamin meningkat ketika seseorang merasakan harapan, ketenangan, dan makna hidup. Gerakan shalat yang ritmis, suasana hening, serta doa penuh harap dalam Tahajjud dapat menciptakan kondisi fisiologis yang mendorong pelepasan dopamin. Inilah sebabnya banyak jamaah merasa lebih “lega” dan lebih bersemangat setelah melakukan shalat malam.

Halaman Selanjutnya
img_title