Peran Ayah: Antara Tanggung Jawab Dunia dan Amanah Akhirat
- Pexels
Bogor, VIVA Bogor – Setiap kali Hari Ayah diperingati tanggal 12 November, sering kali yang terlintas di benak kita adalah sosok yang bekerja keras, pulang larut malam, dan menanggung beban ekonomi keluarga. Sosok yang jarang bicara, tapi dipuja karena keteguhan dan tanggung jawabnya. Namun, apakah tugas seorang ayah hanya sebatas mencari nafkah?
Dalam banyak keluarga modern, ayah diidentikkan sebagai "mesin uang" keluarga. Ketika penghasilan berkurang, posisinya pun sering digugat, bahkan direndahkan. Padahal, dalam Islam, tugas ayah jauh melampaui urusan duniawi. Ia bukan sekadar pencari nafkah, tetapi juga pemimpin spiritual dan penjaga moral keluarganya.
Allah SWT berfirman dalam Surah At-Tahrim ayat 6:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...”
Ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab ayah tidak berhenti pada dapur dan rekening, tapi juga pada hati dan akhlak anak-anaknya. Mendidik dengan kasih, memberi teladan dalam ibadah, serta memastikan rumah menjadi tempat tumbuhnya iman, itulah peran ayah sejati menurut Al-Qur’an.
Dari sisi psikologi, kehadiran ayah berperan besar dalam membangun rasa aman dan percaya diri anak. Psikolog keluarga menyebut bahwa figur ayah yang hadir secara emosional dapat menumbuhkan kestabilan emosi dan kemampuan anak menghadapi tekanan hidup. Sayangnya, di era digital, banyak ayah terjebak dalam dilema: hadir secara ekonomi, tapi absen secara emosional.
Fenomena slow living kini menjadi tren alternatif: hidup lebih sederhana, lebih dekat dengan keluarga, dan lebih sadar makna. Namun, perubahan mendadak tanpa visi bersama justru bisa menimbulkan ketegangan baru, istri dan anak mungkin belum siap dengan gaya hidup yang lebih pelan di tengah tekanan ekonomi dan sosial.
Dalam Islam, keseimbangan adalah kuncinya. Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Cukuplah seseorang berdosa jika ia menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Dawud)
Artinya, tanggung jawab ekonomi tetap penting, namun bukan satu-satunya tolok ukur keberhasilan seorang ayah. Ayah sejati adalah ia yang menuntun keluarganya bukan hanya menuju kebahagiaan dunia, tapi juga keselamatan akhirat.