Jangan Asal Share! Saatnya Kembali ke Tabayun di Era Serba Cepat
- Ilustrasi
Bogor, VIVA Bogor – Era Cepat, Pikiran Lambat Sekali klik, berita menyebar. Sekali “forward”, jutaan orang bisa terpengaruh. Di era media sosial, kecepatan sering menang dari kebenaran. Kita hidup di zaman di mana jempol bisa lebih berbahaya dari pedang, ketika satu unggahan bisa merusak reputasi, menebar kebencian, bahkan memecah persaudaraan.
Namun, di tengah hiruk-pikuk dunia digital ini, Islam sebenarnya sudah lama memberi panduan yang sangat relevan: tabayun, meneliti dan memastikan kebenaran sebelum menyebarkan kabar.
Kata tabayun berasal dari bahasa Arab bayyana, yang berarti “menjelaskan” atau “menerangkan dengan jelas”. Dalam konteks sosial, tabayun berarti menelusuri kebenaran suatu informasi sebelum mengambil sikap atau menyebarkannya kepada orang lain.
Dalilnya jelas tertulis dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 6:
"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti (tabayunlah), agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini seolah ditujukan langsung untuk kita, pengguna internet abad ke-21.
Saat Jari Lebih Cepat dari Akal
Berapa kali kita tergoda untuk segera menekan tombol “bagikan” hanya karena judul berita terasa meyakinkan atau sesuai dengan sudut pandang kita? Padahal, bisa jadi isi berita tersebut hoaks, fitnah, atau hanya potongan dari kebenaran yang lebih besar.
Fenomena ini disebut “confirmation bias” kecenderungan manusia mempercayai hal yang sesuai dengan keyakinannya, tanpa peduli apakah itu benar atau tidak.
Di sinilah tabayun bekerja sebagai “rem spiritual” yang mengingatkan kita untuk berhenti sejenak, berpikir, dan mencari sumber yang sahih.
Tabayun di Dunia Digital: Bukan Sekadar Cek Fakta
Tabayun bukan cuma soal memeriksa kebenaran berita politik atau gosip selebritas. Ini tentang menjaga hati dari prasangka, menahan diri dari menuduh, dan menghormati kehormatan orang lain.
Caranya bisa sesederhana:
- Periksa sumbernya. Apakah situs atau akun tersebut kredibel?
- Cek konteksnya. Apakah kutipan itu lengkap atau hanya potongan?
- Tahan emosi. Jangan sebarkan berita yang membuat marah sebelum tahu duduk perkaranya.
- Gunakan akal dan adab. Jangan jadikan teknologi alasan untuk melupakan etika.