Musim Kemarau, Kenapa Puncak Bogor Makin Dingin? Ini Kata BMKG

BMKG Citeko, Cisarua, Kabupaten Bogor.
Sumber :
  • Dok: Rizal

Kabupaten Bogor, VİVA Bogor – Suhu udara di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, terasa semakin dingin dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini terjadi menjelang periode puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung pada Juli hingga September.

img_title BMKG Pantau Erupsi Anak Krakatau 24 Jam, Abu Vulkanik Terdeteksi hingga Jawa Barat

Kepala Stasiun BMKG Citeko, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Fatuhri, menjelaskan, suhu dingin tersebut dipengaruhi oleh angin Monsun Australia yang bergerak menuju Benua Asia dan melintasi wilayah Indonesia serta perairan Samudra Hindia.

Menurut Fatuhri, angin Monsun Australia memiliki karakteristik kering dengan kandungan uap air yang relatif sedikit. Kondisi tersebut semakin terasa pada malam hari ketika suhu udara mencapai titik minimumnya.

img_title Abu Vulkanik Anak Krakatau Bertebaran di Puncak, Polisi Bagikan Ratusan Masker

“Angin Monsun Australia ini bersifat kering dan sedikit membawa uap air, apalagi pada malam hari saat suhu mencapai titik minimumnya,” ujar Fatuhri, Senin  17 Agustus 2026.

Fenomena tersebut membuat sejumlah wilayah Indonesia, terutama daerah di selatan khatulistiwa seperti Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, mengalami suhu udara yang lebih rendah selama periode musim kemarau.

img_title Abu Vulkanik Anak Krakatau Terdeteksi di Bogor, BMKG Imbau Warga Puncak Waspada

Namun, angin Monsun Australia bukan satu-satunya faktor. Kondisi geografis dan topografis, ketinggian wilayah, serta rendahnya kelembapan udara turut berperan membuat suhu di sejumlah kawasan menjadi lebih dingin.

Mengapa Malam Hari Terasa Lebih Dingin?

Fatuhri menjelaskan, pada Juni hingga Agustus, posisi sudut datang sinar matahari relatif lebih jauh dari Indonesia, terutama wilayah selatan khatulistiwa. Akibatnya, pemanasan permukaan bumi menjadi lebih rendah.

Kondisi tersebut diperkuat oleh minimnya tutupan awan pada malam hari. Ketika langit relatif cerah, panas dari permukaan bumi lebih mudah terpancar ke atmosfer sehingga suhu udara dapat turun secara signifikan.

“Kurangnya tutupan awan pada malam hari menyebabkan radiasi panas dari permukaan bumi terpancar ke atmosfer tanpa hambatan, sehingga terjadi penurunan suhu yang signifikan,” ungkapnya.

Sensasi dingin semakin terasa di kawasan dataran tinggi seperti Puncak. Pada malam hari, kondisi angin yang relatif minim membuat pencampuran udara berkurang.

Akibatnya, udara dingin cenderung bertahan lebih lama di dekat permukaan. Ketinggian kawasan Puncak juga menjadi faktor penting. Semakin tinggi suatu wilayah dari permukaan laut, suhu udaranya cenderung lebih rendah dibandingkan daerah yang berada di dataran lebih rendah atau kawasan perkotaan.

Halaman Selanjutnya
img_title