Setelah Hampir 2 Bulan Kemarau, Hujan Akhirnya Guyur Sejumlah Wilayah Bogor
- Dok: Fahri
Bogor, VIVA Bogor – Setelah hampir dua bulan dilanda musim kemarau, sejumlah wilayah di Kota dan Kabupaten Bogor akhirnya diguyur hujan pada Sabtu 18 Juli 2026. Turunnya hujan disambut penuh rasa syukur oleh masyarakat yang selama beberapa pekan terakhir menghadapi dampak kekeringan dan berkurangnya ketersediaan air bersih.
Hujan yang turun di beberapa titik menjadi kabar menggembirakan, terutama bagi warga yang selama ini mengalami kesulitan mendapatkan air akibat minimnya curah hujan. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah daerah di Bogor bahkan mulai merasakan dampak musim kemarau, mulai dari sumur yang mengering hingga aktivitas usaha yang terganggu.
Salah seorang warga Kecamatan Tenjolaya, Raden Haji Jaya Akbar, mengaku merasakan hujan turun saat dirinya sedang dalam perjalanan pulang melintasi sejumlah wilayah di Kota hingga Kabupaten Bogor.
"Alhamdulillah hujan turun. Saya masih di perjalanan antara Yasmin, Bubulak, Laladon, Ciomas. Hujan turun di sepanjang jalan yang saya lalui," ungkapnya, Sabtu 18 Juli 2026.
Ia mengaku bersyukur akhirnya hujan kembali turun setelah cukup lama masyarakat menantikan datangnya musim penghujan. Menurutnya, hujan yang turun diharapkan menjadi awal membaiknya kondisi lingkungan yang selama ini dilanda kekeringan.
Raden Haji Jaya Akbar juga berharap hujan tidak hanya mengguyur wilayah yang dilaluinya, tetapi dapat merata ke berbagai daerah lain di Kota dan Kabupaten Bogor yang saat ini mengalami krisis air.
"Semoga hujan turun di wilayah lainnya dan menjadi keberkahan bagi semua masyarakat, terutama di daerah-daerah yang mengalami kekurangan air," ujarnya.
Musim kemarau yang berlangsung hampir dua bulan terakhir memang memberikan dampak cukup besar di sejumlah wilayah Bogor. Beberapa desa dan kecamatan dilaporkan mengalami kekeringan sehingga warga kesulitan memperoleh pasokan air untuk kebutuhan sehari-hari.
Tidak hanya masyarakat, pelaku usaha yang bergantung pada ketersediaan air juga mulai merasakan dampaknya. Salah satunya Caca, warga Kecamatan Ciseeng yang memiliki usaha pemancingan.
Ia mengaku terpaksa menghentikan sementara aktivitas usahanya karena kolam pemancingan yang dikelolanya mengering akibat berkurangnya pasokan air selama musim kemarau.
Kondisi serupa juga dialami Kumpul, seorang petani ikan di Kecamatan Kemang. Menurutnya, debit air di saluran drainase terus menurun hingga menyebabkan salah satu kolam budidaya ikannya tidak lagi dapat digunakan.