Musim Kemarau 2026, Kawasan Puncak Bogor Belum Terdampak Kekeringan, Camat Ungkap Penyebabnya

Camat Cisarua, penanaman pohon berkontribusi menjaga ketersediaan air.
Sumber :
  • Dok: Rizal

Kabupaten Bogor, VIVA Bogor – Memasuki pertengahan musim kemarau 2026, kawasan Puncak di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, masih terpantau aman dari dampak kekeringan. Hingga saat ini, ketersediaan air bersih bagi masyarakat dinilai masih mencukupi sehingga aktivitas warga di berbagai desa tetap berjalan normal.

img_title Nekat Beroperasi, Atribut dan Jok Angkot Uzur di Kota Bogor Bakal Dicopot

Kondisi tersebut menjadi kabar baik di tengah musim kemarau yang biasanya memicu penurunan debit air di sejumlah wilayah. Pemerintah Kecamatan Cisarua pun memastikan belum menerima laporan adanya desa atau kelurahan yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

Camat Cisarua Heri Risnandar mengatakan, hingga pertengahan Juli 2026 belum ada wilayah di kawasan Puncak yang melaporkan terdampak kekeringan.

img_title Drainase Jalur Puncak Rusak Belasan Tahun, Warga Khawatir Air Meluap ke Permukiman

"Belum ada laporan dari desa maupun kelurahan yang terdampak kekeringan di kawasan Puncak pada musim kemarau ini," ujar Heri Risnandar, Kamis, 16 Juli 2026.

Menurut Heri, kondisi tersebut tidak terlepas dari kolaborasi berbagai pihak dalam menjaga kelestarian lingkungan di kawasan Puncak. Upaya yang dilakukan pemerintah pusat, Pemerintah Kabupaten Bogor, hingga PTPN I Regional 2 melalui penanaman ribuan bibit pohon di sejumlah titik dinilai memberikan dampak positif terhadap keberlangsungan sumber daya air.

img_title Ribuan Warga Puncak Ramaikan Ketupat Fest 2026, Tradisi Rebo Wekasan Tetap Dijaga

Ia menjelaskan, keberadaan vegetasi yang semakin baik diyakini membantu menjaga resapan air sehingga ketersediaan sumber air tetap terpelihara meski curah hujan mulai berkurang selama musim kemarau.

Meski kondisi secara umum masih aman, Pemerintah Kecamatan Cisarua tetap memberikan perhatian khusus terhadap sejumlah wilayah yang selama ini dikenal rawan mengalami kekeringan, seperti Desa Kopo dan Desa Citeko.

Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan di lapangan, sumber air di kedua desa tersebut hingga kini masih mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Kondisi ini berbeda dibandingkan musim kemarau tahun sebelumnya ketika beberapa wilayah sempat mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air bersih.

Heri mengungkapkan, pengalaman pada musim kemarau tahun lalu menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah untuk memperkuat langkah-langkah antisipasi. Salah satunya melalui optimalisasi potensi sumber mata air yang telah ada serta pembukaan akses menuju sejumlah sumber air sehingga distribusi air dapat lebih mudah dimanfaatkan masyarakat.

Halaman Selanjutnya
img_title