Sopir Angkot Bogor Akui Tutupi Coretan 'Angkot Tua' demi Tetap Bisa Cari Nafkah
- Dok: Naya Shifa
Kota Bogor, VIVA Bogor – Sejumlah angkutan kota (angkot) di Kota Bogor diduga menghapus atau menutupi tanda coretan bertuliskan "Angkot Tua" yang sebelumnya diberikan oleh Dinas Perhubungan (Dishub). Tindakan tersebut diduga dilakukan agar kendaraan tetap dapat beroperasi dan tidak menarik perhatian penumpang maupun petugas di lapangan.
Salah seorang sopir angkot, Chairil, mengakui bahwa tanda coretan pada kendaraan yang dikemudikannya sengaja dihilangkan atau ditutupi. Menurutnya, langkah tersebut dilakukan semata-mata agar ia tetap bisa bekerja dan memperoleh penghasilan untuk menghidupi keluarganya.
"Ya biar enggak kelihatan saja. Biar bisa narik, bisa cari uang. Kita punya keluarga, otomatis harus tetap aktif buat cari nafkah," ujar Chairil.
Ia mengungkapkan, praktik tersebut bukan hanya dilakukan oleh dirinya. Menurutnya, banyak sopir angkot lain yang melakukan cara serupa dengan menutupi tulisan menggunakan stiker, cat, maupun metode lain agar tanda tersebut tidak lagi terlihat.
"Ada yang di-skotlet, ada yang dihapus, ada yang pokoknya diakal-akalin deh biar hilang. Biar enggak kelihatan sama penumpang," katanya.
Chairil mengaku keberadaan coretan "Angkot Tua" kerap memunculkan pertanyaan dari penumpang. Tidak sedikit penumpang yang mempertanyakan mengapa kendaraan dengan tanda tersebut masih diizinkan beroperasi di jalan.
"Kadang penumpang komplain, 'Kok ini ada tulisan kayak gini masih jalan aja?' Saya juga bingung jawabnya," ujarnya.
Di sisi lain, Chairil mengaku memahami adanya kebijakan pemerintah mengenai penataan dan pengurangan jumlah armada angkutan kota di Kota Bogor. Menurutnya, program tersebut merupakan bagian dari upaya memperbaiki sistem transportasi. Namun, ia berharap pelaksanaannya dilakukan secara menyeluruh dan memberikan kepastian bagi seluruh pengemudi.
"Saya pengennya kalau memang mau distop, ya semuanya yang sudah enggak layak distop semua. Jangan sebagian-sebagian, jadi sama rata," tuturnya.
Ia juga menyoroti mekanisme reduksi armada yang menggabungkan dua unit angkot menjadi satu unit operasional. Hingga kini, menurutnya, masih banyak pengemudi yang belum mengetahui kendaraan mana yang nantinya akan digunakan setelah proses reduksi selesai.
"Kalau dua unit jadi satu unit, mobil yang nanti dipakai yang mana? Harusnya sudah disiapkan dulu unit penggantinya supaya sopir enggak bingung," katanya.