Tambang Belum Beroperasi, Ribuan Emak-Emak di Cipinang Rumpin Bertahan Hidup dengan Geprek Batu
- Dok: Fahri
Kabupaten Bogor, VIVA Bogor – Di tengah belum adanya kepastian terkait aktivitas usaha pertambangan, ribuan ibu rumah tangga di Desa Cipinang, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, memilih bertahan dengan cara yang tidak biasa.
Mereka memecah batu secara manual menjadi material batu split demi mendapatkan penghasilan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Pemandangan tersebut terlihat hampir setiap hari di sejumlah kampung di Desa Cipinang, seperti Kampung Gunung Cabe dan beberapa wilayah lainnya.
Aktivitas emak-emak memecah batu menjadi split
- Dok: Fahri
Puluhan ibu rumah tangga tampak duduk berkelompok di pinggir jalan maupun halaman rumah sambil memegang palu dan memecahkan batu-batu besar menjadi ukuran yang lebih kecil. Bagi mereka, pekerjaan yang dikenal dengan istilah "meprek batu" itu menjadi salah satu sumber penghasilan setelah aktivitas tambang yang sebelumnya menjadi penopang ekonomi masyarakat tidak lagi berjalan seperti dahulu.
Mimin (47), salah seorang warga, mengaku pekerjaan tersebut dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Meski penghasilannya tidak besar, hasil dari memecah batu tetap dapat digunakan untuk membeli kebutuhan dapur sehari-hari. “Kami kerja meprek batu untuk mendapatkan uang belanja. Hasilnya memang tidak banyak, tetapi setidaknya bisa membantu suami yang saat ini masih belum memiliki pekerjaan tetap,” ujarnya, Rabu, 17 Juni 2026.
Berdasarkan pantauan di lapangan, aktivitas memecah batu dilakukan hampir di seluruh wilayah desa. Para ibu biasanya bekerja secara berkelompok menggunakan alat sederhana. Batu-batu yang telah dipecah kemudian dijual sebagai material split yang biasa digunakan untuk kebutuhan konstruksi dan pembangunan.
Kepala Desa Cipinang, Mad Hasan, yang akrab disapa Lurah Gayot, membenarkan bahwa kegiatan tersebut menjadi mata pencaharian alternatif bagi banyak warga, khususnya kaum perempuan.
Menurutnya, Desa Cipinang memiliki 34 RT dan hampir di setiap RT terdapat kelompok ibu-ibu yang bekerja memecah batu. Setiap kelompok bahkan bisa beranggotakan lebih dari 30 orang.
“Di Desa Cipinang ini hampir setiap RT ada kelompok ibu-ibu yang bekerja meprek batu. Kalau dihitung secara keseluruhan jumlahnya bisa mencapai ribuan orang,” kata Mad Hasan.
Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut menggambarkan bagaimana masyarakat berupaya bertahan di tengah keterbatasan lapangan pekerjaan. Banyak keluarga yang sebelumnya menggantungkan penghasilan dari sektor pertambangan kini harus mencari alternatif pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan hidup.