KP2C Dukung Normalisasi Sungai Cileungsi dan Cikeas, Harapan Baru bagi Puluhan Ribu Warga Terdampak Banjir
- Istimewa
Kabupaten Bogor, VIVA Bogor – KP2C Dukung Normalisasi Sungai Cileungsi dan Cikeas, Harapan Baru bagi Puluhan Ribu Warga Terdampak Banjir BOGOR – Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C) menyatakan dukungan penuh terhadap pekerjaan pengendalian banjir di Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas yang saat ini sedang dilaksanakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC).
KP2C mendukung normalisasi Sungai Cileungsi dan Cikeas oleh BBWSCC.
- Istimewa
Program yang mulai dikerjakan pada tahun 2026 ini merupakan usulan masyarakat melalui KP2C yang telah disampaikan sejak 2017. Lokasi pekerjaan berada di lahan pemerintah yang diusulkan oleh Pemerintah Kabupaten Bogor. Pelaksanaannya dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum melalui BBWSCC sebagai bagian dari upaya jangka panjang untuk mengurangi risiko banjir di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Cileungsi dan Cikeas.
Pekerjaan yang sedang berlangsung meliputi pembangunan tanggul permanen dan pengerukan alur sungai. Kegiatan tersebut dilakukan secara bertahap dan dimulai dari titik-titik terendah yang selama ini menjadi lokasi langganan banjir.
Pada jalur Sungai Cikeas, pekerjaan diawali dari wilayah RW 36 dan RW 41 Vila Nusa Indah 3, Desa Bojongkulur, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Sementara itu, untuk jalur Sungai Cileungsi, pekerjaan dilakukan di kawasan Blok Y Vila Nusa Indah 2.
Ketua KP2C, Puarman, mengaku bersyukur karena alat berat telah mulai bekerja di kedua sungai tersebut. Menurutnya, langkah ini menjadi kabar baik yang telah lama dinantikan oleh masyarakat, khususnya warga yang selama bertahun-tahun terdampak banjir.
"Kami senang alat berat sudah mulai bekerja di Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas," ujar Puarman saat meninjau lokasi pekerjaan.
Ia menjelaskan bahwa pengerukan sungai dan pembangunan tanggul permanen akan meningkatkan kapasitas tampung aliran air. Dengan bertambahnya daya tampung sungai, potensi luapan saat curah hujan tinggi diharapkan dapat berkurang sehingga risiko banjir menjadi lebih kecil.
KP2C juga mengapresiasi waktu pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan saat musim kemarau. Kondisi tersebut dinilai lebih efektif karena memudahkan proses pengerjaan sekaligus meminimalkan gangguan akibat cuaca.
Puarman mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung program pengendalian banjir yang sedang berjalan. Menurutnya, pekerjaan besar seperti ini tentu memiliki dampak sementara bagi lingkungan sekitar, seperti kebisingan alat berat maupun debu yang muncul selama proses konstruksi berlangsung.