Dolar Tembus Rp18 Ribu, Pengrajin Tempe di Bogor Terpaksa Kurangi Produksi dan Perkecil Ukuran

pembuatan tempe
Sumber :
  • Dok: Abizar

Kabupaten bogor, VIVA Bogor – Melemahnya nilai tukar rupiah hingga dolar Amerika Serikat menembus Rp18.000 memberikan dampak nyata bagi pelaku usaha kecil di daerah. Salah satunya dirasakan para pengrajin tempe di Kampung Ciluar, Desa Pasirlaja, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, yang kini harus berjuang menghadapi lonjakan harga kedelai impor sebagai bahan baku utama produksi.

img_title Jumat Sehat PWI Kota Bogor, Momentum Perkuat Sinergi Pers dan KADIN Dorong Ekonomi Daerah

pengrajin tempe

Photo :
  • Dok: Abizar

Kondisi tersebut memaksa para pengrajin mengambil berbagai langkah agar usaha tetap berjalan. Mulai dari mengurangi volume produksi harian hingga memperkecil ukuran tempe yang dijual kepada konsumen. Langkah itu dilakukan untuk menjaga harga jual tetap terjangkau di tengah meningkatnya biaya produksi.

img_title Pasar Jambu Dua Bogor Meledak, 400 Kios Terisi dan Dijuluki ‘Santa-nya Bogor

Salah seorang pengrajin tempe, Japar, mengatakan kenaikan harga kedelai impor sudah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Situasi tersebut membuat biaya produksi terus membengkak, sementara harga jual tempe di pasaran masih sulit dinaikkan karena mempertimbangkan daya beli masyarakat.

Menurut Japar, harga kedelai impor yang sebelumnya berada di kisaran Rp10.000 per kilogram kini telah mencapai sekitar Rp11.500 per kilogram. Kenaikan tersebut sangat berpengaruh terhadap kelangsungan usaha para pengrajin karena sebagian besar bahan baku yang digunakan masih bergantung pada kedelai impor.

img_title Sentul City Dorong Ekonomi Warga, Lapangan Kerja dan UMKM di Sumur Batu Kian Tumbuh

“Kalau dulu harga kedelai sekitar Rp10 ribu per kilogram, sekarang sudah mencapai Rp11.500 per kilogram. Tentu sangat berpengaruh terhadap biaya produksi,” ujar Japar, Senin, 8 Juni 2026.

Akibat kenaikan harga bahan baku, jumlah produksi harian pun terpaksa dikurangi. Jika sebelumnya para pengrajin mampu mengolah enam hingga tujuh kuintal kedelai setiap hari, kini produksi hanya berkisar lima kuintal per hari. Pengurangan produksi dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan modal yang semakin besar.

“Biasanya sehari bisa enam sampai tujuh kuintal, sekarang paling sekitar lima kuintal karena harga bahan baku terus naik,” katanya.

Selain memangkas produksi, para pengrajin juga memilih memperkecil ukuran tempe yang dijual. Strategi ini dianggap sebagai cara paling memungkinkan agar harga tetap bertahan dan tidak membebani konsumen. Saat ini harga tempe di sejumlah pasar tradisional masih berada di kisaran Rp6.000 untuk ukuran besar dan Rp5.000 untuk ukuran kecil. Namun, ukuran produk yang diterima pembeli tidak lagi sebesar sebelumnya.

Halaman Selanjutnya
img_title