Baru 15 Hari Dikerjakan, Turap Normalisasi Bendung Cibeet Cikumpeni Kembali Ambrol

Proyek normalisasi Bendung Cibeet Cikumpeni di Kabupaten Bogor kembali ambrol setelah 15 hari pengerjaan
Sumber :
  • Dok: Dedi Ruswandi

Kabupaten Bogor, VIVA Bogor – Proyek normalisasi Bendung Cibeet Cikumpeni yang baru berjalan sekitar 15 hari kembali mengalami kerusakan. Turap setinggi 4 meter dengan panjang sekitar 60 meter yang dibangun di lokasi tersebut dilaporkan ambrol akibat tidak mampu menahan tekanan pergerakan tanah di area proyek, Rabu 13 Mei 2026.

img_title Jalan Raya Cilebut Rawan Kecelakaan, Tak Ada Guardrail dan Masih Dihantui Longsor, Siapa Bertanggung Jawab?

Proyek normalisasi Bendung Cibeet Cikumpeni di Kabupaten Bogor kembali ambrol setelah 15 hari pengerjaan

Photo :
  • Dok: Dedi Ruswandi

Proyek yang dikerjakan melalui UPT PU Irigasi Jonggol itu sebelumnya menjadi salah satu upaya pemerintah dalam merespons keluhan para petani terkait kerusakan aliran sungai dan saluran irigasi di wilayah tersebut. Namun dalam proses pengerjaannya, kondisi tanah yang labil menjadi kendala utama di lapangan.

img_title Jembatan Hankam Cisarua Disebut Licin dan Rawan Kecelakaan, Warga Minta Segera Diperbaiki

Turap dan bronjong yang sebelumnya telah dipasang kembali mengalami kerusakan cukup parah setelah terjadi pergeseran tanah di sekitar lokasi pembangunan. Akibat kondisi tersebut, pengerjaan proyek untuk sementara dihentikan sambil menunggu hasil evaluasi teknis dan musyawarah lanjutan dari pihak terkait.

Pelaksana lapangan proyek, Ajat, mengatakan saat ini pihaknya masih menunggu keputusan dari dinas terkait mengenai langkah selanjutnya dalam pengerjaan proyek normalisasi tersebut.

img_title Drainase Rusak di Jalur Ciawi Dikeluhkan Warga, Luapan Air Ancam Keselamatan Pengguna Jalan

“Saya masih menunggu keputusan dari dinas, karena rencananya akan dirapatkan dulu. Alat berat juga sementara dipulangkan karena belum ada keputusan lanjutan. Daripada terkena biaya tambahan alat berat, akhirnya dipulangkan dulu,” ujar Ajat saat dikonfirmasi melalui sambungan WhatsApp.

Ia menjelaskan bahwa kerusakan turap bukan disebabkan kualitas pekerjaan yang buruk, melainkan faktor alam berupa pergerakan tanah di area proyek yang dinilai cukup ekstrem.

“Terkait pekerjaan yang sudah selesai, sebelumnya pihak dinas juga sudah berencana melakukan pembayaran. Ini kan termasuk bencana alam, bukan karena pengerjaannya jelek,” jelasnya.

Menurut Ajat, dirinya sempat berencana membersihkan pasangan bronjong yang ambruk agar lokasi terlihat lebih rapi. Namun pihak dinas meminta agar kondisi tersebut sementara dibiarkan sebagai bahan dokumentasi dan bukti apabila nantinya dilakukan survei ulang ke lokasi proyek.

“Tadinya saya mau angkat pasangan bronjong yang ambruk hari itu juga, tetapi pihak dinas meminta jangan dulu dibersihkan. Ini untuk bukti kalau nanti ada survei lagi ke lokasi,” katanya.

Ia menambahkan, apabila material yang rusak langsung dibersihkan, dikhawatirkan akan muncul anggapan bahwa kerusakan tersebut tidak pernah terjadi.

Halaman Selanjutnya
img_title