Menyiapkan Gen-Z Hadapi Era AI, Forum Wartawan Jabodetabek Gelar Sanlat Ramadan
- Viva Bogor
Kota Bogor, VIVA Bogor – Forum Wartawan Jabodetabek menggelar Pesantren Kilat (Sanlat) Ramadhan 1447 H di Gedung DPRD Kota Bogor, Rabu, 11 Maret 2026. Kegiatan ini mengusung tema besar "Menyongsong Generasi Muda Indonesia 2045: Cerdas, Berakhlak Mulia, dan Berjiwa Qurani" yang dihadiri sebanyak 100 peserta yang diisi dari Santri dan pelajar SLTA dan SMK.
Ketua DPRD Kota Bogor, Adityawarman Adil, menegaskan bahwa pemuda adalah "rahasia kekuatan" di balik setiap perubahan besar dunia. Ia mencontohkan sejarah Proklamasi 1945 yang dipicu oleh desakan kaum muda terhadap Soekarno-Hatta.
“Masa depan bangsa ini ada di tangan teman-teman semua. Bagaimana Indonesia di tahun 2045 nanti, tergantung pada bagaimana adik-adik hari ini berimajinasi dan membekali diri dengan hal-hal positif,” ujar Adityawarman.
Ia juga mengingatkan generasi Gen-Z dan Gen-Alpha agar tidak terbuai oleh gangguan digital.Sebaliknya, ia mendorong mereka untuk kembali ke akar spiritual. “Bekal utama kita sebagai Muslim adalah mengaji Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup. Itulah skenario kehidupan yang paling sempurna,” tambahnya.
Praktisi dari Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN), Muhammad Firmandana, membedah fenomena Artificial Intelligence ( AI ) yang kini tak terbendung. Ia memberikan perspektif menarik mengenai perbedaan data budaya antara Barat dan Tiongkok.
"Di AS dan Eropa, isu privasi sangat ketat. Namun di China, semua data dioptimalkan untuk membangun ekosistem digital mandiri. Faktanya, sekali kita mengetik di ponsel, itu menjadi ghost digital yang sudah terlepas ke ruang publik. Kita tidak bisa menghindar," jelas Firmandana.
Terkait kekhawatiran AI menggusur tenaga kerja, Firmandana memberikan pesan optimis bahwa lapangan kerja tidak hilang, melainkan bertransformasi. Misalnya, jika dulu programmer konvensional sangat laku, kini yang dicari adalah mereka yang mampu mengoperasikan AI. Apalagi pembuatan website kini bisa dilakukan dengan biaya jauh lebih murah berkat bantuan teknologi.
“AI memberikan jawaban berdasarkan probabilitas, bukan kebenaran mutlak. Oleh karena itu, manusia tetap dibutuhkan untuk memvalidasi dan mengarahkan teknologi tersebut agar tetap bermanfaat,” tegasnya.
Selain teknologi dan spiritual, peserta juga mendapatkan wawasan konservasi satwa dari Fajar Muharam (Aviary Park) dan islam serta sains dari Kukuh Galih Waskita (Owner Dr. Chicken). (*)