Kemarau Bikin Puncak Gunung Mas Makin Dingin, BMKG Catat Suhu Turun hingga 16 Derajat Celsius
- Dok: Rizal
Kabupaten Bogor, VIVA Bogor – Memasuki awal Agustus 2026 yang bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, kawasan Puncak Gunung Mas di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, tetap menjadi salah satu destinasi wisata favorit. Meski berada di tengah musim kemarau, kawasan ini justru menawarkan suasana yang semakin sejuk dengan hamparan hijau perkebunan teh yang memanjakan mata.
Udara segar berpadu dengan panorama alam khas pegunungan membuat banyak wisatawan memilih Gunung Mas sebagai tempat berlibur maupun melepas penat dari aktivitas perkotaan. Pada pagi hingga sore hari, langit yang cerah memperlihatkan bentangan kebun teh yang luas, sementara menjelang malam hingga dini hari suhu udara terasa semakin dingin.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Citeko, Kecamatan Cisarua, menjelaskan bahwa kondisi udara dingin yang dirasakan masyarakat maupun wisatawan di kawasan Puncak merupakan fenomena yang lazim terjadi setiap musim kemarau.
Menurutnya, perubahan suhu tersebut dipengaruhi oleh kondisi atmosfer yang terjadi secara alami akibat pergerakan semu matahari.
"Fenomena udara dingin pada malam hingga dini hari di kawasan Puncak merupakan hal yang wajar terjadi selama musim kemarau," ujarnya, Senin, 3 Agustus 2026.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia berada di wilayah tropis yang dipengaruhi oleh pergerakan semu matahari. Pada periode Juli hingga Agustus, posisi matahari berada di Belahan Bumi Utara (BBU). Akibatnya, Benua Asia mengalami musim panas, sedangkan Benua Australia memasuki musim dingin.
Perbedaan kondisi tersebut menyebabkan tekanan udara di Australia menjadi lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Situasi itu memicu bertiupnya angin monsun Australia yang membawa massa udara dingin dan kering menuju wilayah Indonesia.
"Ketika Australia mengalami musim dingin, tekanan udara di wilayah tersebut menjadi lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Akibatnya, angin monsun Australia yang bersifat dingin dan kering bertiup dominan ke wilayah Indonesia," jelasnya.
Fatuhri mengatakan, angin monsun Australia memiliki kandungan uap air yang sangat sedikit sehingga menyebabkan curah hujan menurun dan sebagian besar wilayah Indonesia memasuki musim kemarau.
Selain itu, berkurangnya tutupan awan selama musim kemarau membuat sinar matahari lebih leluasa memanaskan permukaan bumi pada siang hari. Akibatnya, udara terasa lebih panas dan kering ketika siang berlangsung.