OPINI : Menemukan Kembali Sungai Ciliwung
- Viva Bogor
Bogor, Yuli Suhartono - Sungai Ciliwung selalu punya cerita. Ia mengalir dari lereng Gunung Pangrango, melewati hutan dan persawahan, hingga memasuki kota dengan denyut kehidupan manusia yang padat. Di sepanjang alirannya, Ciliwung menyaksikan perubahan zaman dari sungai yang dulu jernih tempat anak-anak bermain, kini menjadi aliran yang sarat sampah dan limbah. Namun, di balik keruh airnya, tersisa harapan bahwa Ciliwung masih bisa disembuhkan.
Langkah pemerintah membagi Ciliwung menjadi beberapa segmen patut diapresiasi. Pendekatan ini membuat pengelolaan sungai tidak lagi terlalu luas dan berat di satu tangan. Tiap segmen kini dapat diadopsi oleh komunitas atau kelompok masyarakat yang merasa memiliki bagian dari Ciliwung. Pendekatan ini terbukti manjur untuk kegiatan penghijauan karena mendorong keterlibatan warga yang langsung merasakan manfaat lingkungan yang lebih hijau dan teduh.
Namun, ketika bicara soal pencemaran air, pembagian segmen saja tidak cukup. Pengendalian kualitas air menuntut strategi yang lebih terukur, sistematis, dan bersifat menyeluruh. Upaya perbaikan kualitas sungai tidak bisa dilakukan secara sporadis, melainkan harus bertahap dari hulu hingga ke hilir.
Perbaikan kualitas Ciliwung perlu dirancang seperti tahapan penyembuhan ekosistem. Ada tiga sasaran utama yang harus dicapai secara berjenjang:
- Fishable: Airnya cukup bersih untuk menjadi habitat ikan dan makhluk air lain.
- Swimmable: Sungai yang aman untuk disentuh manusia dan kegiatan rekreasi.
- Drinkable: Air yang layak dikonsumsi setelah pengolahan sederhana.
Setiap tahap harus selalu dimulai dari hulu. Jika hulu Ciliwung sudah mencapai kondisi fishable, langkah bisa diperluas ke segmen tengah, dan akhirnya ke hilir. Urutan ini penting karena di hulu air pertama kali mengalir, membawa pengaruh ke seluruh bagian sungai.
Kenyataannya, tugas ini tidak mudah. Salah satu kendala yang sering dihadapi adalah fluktuasi debit sungai. Setelah hujan, air mengalir deras. Namun, di musim kemarau, debitnya menyusut tajam.
Ketika debit kecil, kemampuan alami Ciliwung untuk mengencerkan limbah berkurang drastis. Padahal, peraturan baku mutu dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menetapkan nilai ambang yang tetap tanpa memperhitungkan perubahan debit. Akibatnya, sekalipun pencemar hanya sedikit, konsentrasinya bisa melampaui ambang batas di saat sungai kekurangan air.